Oleh: Hairuzaman_
(Pemimpin Redaksi Kabar Expose.com)
Gunung Anak Krakatau kembali menjadi sorotan. Dalam beberapa hari terakhir gunung yang berada di tengah Selat Sunda ini terus “batuk” dan menyemburkan abu vulkanik ke udara. Aktivitas vulkanik yang hampir tanpa jeda ini menjadi pengingat bahwa Indonesia memang berada di jalur cincin api dunia yang rawan bencana.
Letusan GAK bukan hal baru bagi masyarakat Banten. Sejak kelahirannya pada 1927, gunung ini telah beberapa kali menunjukkan eksplosivitasnya. Namun setiap kali ia aktif, kekhawatiran selalu muncul. Bukan hanya karena letusannya, tetapi juga karena dampak ikutan yang dirasakan langsung oleh masyarakat di sekitar pesisir.
Dampak paling nyata saat ini adalah jatuhnya abu vulkanik di sejumlah wilayah Provinsi Banten. Abu tipis berwarna kelabu menempel di atap rumah, kendaraan, dan dedaunan. Bagi sebagian orang mungkin terlihat sepele, namun bagi kesehatan abu vulkanik bisa menjadi ancaman serius jika terhirup dalam jangka waktu lama.
Partikel halus dalam abu vulkanik dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu iritasi. Anak-anak, lansia, dan penderita asma adalah kelompok yang paling rentan. Tidak heran jika rumah sakit dan puskesmas di wilayah pesisir mulai melaporkan peningkatan pasien dengan keluhan batuk, sesak, dan mata perih.
Menyikapi hal ini, BPBD Kabupaten Serang bergerak cepat. Imbauan resmi dikeluarkan agar masyarakat tetap waspada. Salah satu anjuran paling sederhana namun penting adalah menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Langkah kecil ini bisa meminimalkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu.
Selain persoalan kesehatan, aktivitas GAK juga membawa dampak psikologis. Ingatan kolektif masyarakat Banten tentang tsunami Selat Sunda 2018 masih membekas. Setiap kali GAK aktif, muncul kecemasan: “Apakah akan terjadi tsunami lagi?” Rasa takut ini wajar, karena bencana sebelumnya telah merenggut banyak korban jiwa.
Hingga saat ini, PVMBG dan BMKG menegaskan bahwa aktivitas GAK belum berpotensi menimbulkan tsunami. Ketinggian dan volume material yang dimuntahkan belum mencapai ambang yang membahayakan. Namun, ketidakpastian alam membuat masyarakat tetap siaga. Kewaspadaan adalah bentuk penghormatan kita terhadap kekuatan alam.
Di tengah situasi seperti ini, muncul persoalan lain: penyebaran informasi yang tidak benar. Beberapa pihak memanfaatkan situasi untuk membuat konten hoax tentang letusan GAK. Ada yang melebih-lebihkan tinggi kolom abu, ada pula yang menyebarkan video lama seolah-olah kejadian baru.
Hoax bukan sekadar kebohongan. Ia adalah racun yang memperparah kepanikan. Di saat masyarakat butuh informasi jernih, hoax justru membuat orang semakin cemas, bahkan mengambil keputusan keliru seperti mengungsi tanpa alasan atau menimbun kebutuhan pokok. Dampaknya bisa lebih luas dari abu vulkanik itu sendiri.
BPBD secara tegas melarang pembuatan dan penyebaran konten hoax terkait GAK. Larangan ini bukan bentuk pembungkaman, melainkan upaya melindungi kesehatan mental masyarakat. Di wilayah pesisir Selat Sunda, ketenangan adalah hal mahal. Satu video hoax bisa membuat ratusan keluarga tidak bisa tidur semalaman.
Lalu apa yang bisa kita lakukan? Pertama, percaya dan ikuti informasi resmi dari PVMBG, BMKG, dan BPBD. Kedua, jaga kesehatan dengan masker, air bersih, dan menutup rapat makanan dari debu. Ketiga, saling menguatkan antar tetangga. Di saat bencana, solidaritas adalah vaksin terbaik melawan rasa takut.
Pemerintah daerah juga perlu hadir lebih nyata. Pembagian masker gratis, posko kesehatan, dan edukasi mitigasi di sekolah-sekolah pesisir harus digencarkan. Anak-anak perlu diajarkan sejak dini bagaimana bersikap saat gunung aktif, agar mereka tidak tumbuh dengan trauma, tetapi dengan kesiapsiagaan.
Gunung Anak Krakatau adalah bagian dari identitas Selat Sunda. Ia indah, tapi juga berbahaya. Kita tidak bisa meminta gunung berhenti meletus. Yang bisa kita lakukan adalah belajar hidup berdampingan dengan bijak: menghormati tanda-tanda alam, menyiapkan diri, dan tidak menambah gaduh dengan informasi bohong.
Pada akhirnya, letusan GAK mengingatkan kita pada dua hal. Pertama, betapa kecilnya manusia di hadapan alam. Kedua, betapa pentingnya kebersamaan dan akal sehat di tengah ketidakpastian. Semoga “batuk” GAK kali ini segera mereda, dan masyarakat Banten tetap diberi kekuatan untuk menjaga diri, menjaga sesama, dan menjaga kebenaran informasi. **












