KETIKA REPORTASE WARTAWAN BERTARUNG “DIMULUT” GAK

Oleh: Hairuzaman.

(Pemimpin Redaksi Kabar Expose.com).

Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali “batuk”. Dentuman letusannya mengguncang Selat Sunda, melontarkan lava panas dan semburan abu vulkanik yang terbawa angin hingga Banten, Jakarta, Bogor, Lampung, bahkan sampai ke Samudra Hindia. Di tengah kepulan abu itu, ada orang-orang yang justru mendekat. Mereka adalah wartawan.

Hingga esai ini ditulis, pencarian terhadap 5 orang wartawan dan 3 kru kapal masih terus dilakukan. Polda Banten bersama BPBD dan Basarnas menyisir perairan yang diduga menjadi lokasi terakhir rombongan. Belum ada kabar. Do’a seluruh insan pers tertuju ke sana.

Kelima rekan kami itu berangkat dengan satu tujuan: meliput. Tugas jurnalistik. Mereka ingin menghadirkan fakta langsung dari sumbernya. Bukan dari layar kaca, bukan dari rilis, tapi dari dekat. Dari atas gelombang yang mengantar mereka ke mulut Gunung Anak Krakatau.

Status GAK saat itu adalah Siaga 3. Artinya berbahaya. Artinya setiap detik bisa berubah menjadi letusan susulan. Tapi bagi seorang wartawan, “berbahaya” seringkali diterjemahkan sebagai “penting untuk diketahui publik”. Maka kamera dinyalakan, drone diterbangkan, catatan dibuka.

Profesi wartawan memang penuh risiko. Bukan hanya risiko dikejar deadline. Tapi risiko lapangan. Banjir, konflik, bencana, dan kali ini: gunung berapi. Kita sudah terbiasa. Tapi bukan berarti kita kebal. Kita hanya memilih untuk tetap maju, karena ada tanggung jawab yang lebih besar: hak publik atas informasi.

Sebagai wartawan foto atau videografer, godaan untuk mengambil gambar dari jarak dekat sangat besar. Satu frame yang dramatis bisa menjelaskan seribu kata. Satu video lava yang menyembur bisa membuat publik paham betapa dahsyatnya kekuatan alam. Di titik itulah nalar profesionalme dan naluri manusia sering bertarung.

Jujur saja. Saat membidik, kita jarang berpikir tentang risiko. Yang ada di kepala hanya: “Apakah angle-nya bagus? Apakah cahayanya cukup? Apakah ini bisa jadi foto sampul besok?” Semua demi menyajikan berita yang menarik dan jujur kepada pembaca.

Padahal alternatifnya ada. Pos Pemantauan GAK ada di Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang. Dari sana kita bisa memantau, bisa menulis, bisa tetap aman. Tapi gambar dari jauh tidak akan sama dengan gambar dari dekat. Dan publik berhak melihat kedahsyatan itu sedekat mungkin.

Itulah dilema kami. Di satu sisi ada protokol keselamatan. Di sisi lain ada tuntutan profesi dan ekspektasi publik. Di tengahnya ada hati seorang jurnalis yang tidak ingin ketinggalan sejarah. Lima rekan kami memilih yang terakhir. Dan kini kita semua menanggung cemasnya bersama.

Letusan GAK bukan hanya soal bencana alam. Ia juga soal bagaimana media bekerja di garis depan. Kita bukan TNI, bukan relawan, bukan tim SAR. Tapi kita ada di sana, bersama mereka. Karena informasi juga bagian dari pertolongan pertama. Informasi yang benar bisa menyelamatkan.

Abu vulkanik yang terbang sampai Samudra Hindia adalah bukti bahwa GAK tidak bisa dianggap remeh. Angin tidak mengenal batas wilayah. Begitu juga risiko. Ia tidak memilih siapa yang akan jadi korban. Wartawan, nelayan, wisatawan, semua punya peluang yang sama jika abai terhadap peringatan.

Kita tidak sedang menyalahkan siapa-siapa. Ini bukan tentang gegabah. Ini tentang dedikasi. Tentang cinta pada profesi. Tentang keyakinan bahwa cerita harus diceritakan, walau badai menghadang. Lima rekan dan 3 kru kapal itu adalah cermin dari semangat itu.

Hari ini kita hanya bisa menunggu dan berdo’a. Berdo’a agar mereka ditemukan dalam keadaan selamat. Berdo’a agar keluarga diberi kekuatan. Dan berdo’a agar ke depan, setiap redaksi lebih memikirkan skema keselamatan bagi wartawannya saat meliput bencana.

Gunung akan terus meletus. Berita akan terus dicari. Tapi nyawa hanya satu. Semoga pengorbanan ini menjadi pelajaran bagi kita semua: bahwa reportase yang hebat bukan hanya yang paling dekat dengan sumber, tapi juga yang paling pulang dengan selamat. Untukmu kawan, kami menunggu. Pulanglah. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *