Oleh: Hairuzaman.
(Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan)
Masyarakat Nusa Tenggara Timur kembali diuji. Belum tuntas proses pemulihan pasca gempa bumi, kini mereka harus menghadapi bencana baru berupa erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur.
Gunung setinggi 1.703 mdpl ini kembali menunjukkan aktivitas tinggi. Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi terjadi pada Kamis malam, 20 Agustus 2026 sekitar pukul 20.00 WITA.
Letusan tersebut memuntahkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 1.000 meter di atas puncak. Abu berwarna kelabu dengan intensitas cukup tebal itu bergerak ke arah barat hingga barat laut, mengikuti arah angin.
Selain abu, terpantau juga lontaran material pijar yang keluar dari kawah. Suara dentuman lemah hingga sedang terdengar hingga ke pos pengamatan di Desa Pululera, menandakan tekanan magma di dalam perut gunung masih besar.
PVMBG mencatat erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 47,3 mm dan durasi 119 detik. Meski demikian, aktivitas kegempaan vulkanik dalam dua pekan terakhir masih tergolong fluktuatif.
Atas dasar data visual dan instrumental tersebut, status Gunung Lewotobi Laki-laki saat ini masih berada pada Level III Siaga. Artinya potensi erupsi susulan dengan skala lebih besar masih mungkin terjadi.
Dampak langsung erupsi mulai dirasakan warga di desa-desa sekitar. Hujan abu tipis menyelimuti permukiman, jalan, dan lahan pertanian. Aktivitas belajar dan bekerja juga terganggu karena jarak pandang menurun.
PVMBG melalui Badan Geologi Kementerian ESDM mengeluarkan imbauan tegas. Masyarakat, pendaki, dan wisatawan dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi untuk menghindari lontaran material berbahaya.
Selain itu, warga diminta menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut saat keluar rumah. Hal ini penting untuk mencegah gangguan pernapasan akibat partikel abu vulkanik yang sangat halus.
Pemerintah daerah juga diingatkan mewaspadai ancaman banjir lahar hujan. Sejumlah wilayah seperti Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Hokeng Jaya, dan Nawakote yang berada di aliran sungai berhulu di gunung diminta meningkatkan kesiagaan.
Kondisi ini tentu menambah beban psikologis masyarakat NTT. Pasca gempa, mereka baru mulai menata hidup, memperbaiki rumah, dan memulihkan ekonomi. Kini harus kembali mengungsi dan menyelamatkan diri.
Di sinilah peran pemerintah, TNI, Polri, BPBD, dan relawan diuji. Penyaluran bantuan logistik, dapur umum, layanan kesehatan, dan posko pengungsian harus berjalan cepat dan merata agar tidak menimbulkan krisis kemanusiaan baru.
Masyarakat juga perlu diedukasi agar tidak mudah percaya pada informasi hoaks. Setiap perkembangan aktivitas gunung harus merujuk pada sumber resmi seperti PVMBG, BMKG, BNPB, dan BPBD setempat.
Bencana boleh datang bertubi-tubi, namun semangat kebersamaan masyarakat NTT tidak boleh padam. Dengan gotong royong, doa, dan mitigasi yang baik, kita yakin Flores dan NTT akan kembali pulih dan lebih tangguh menghadapi ujian alam. **












