Oleh: Hairuzaman
(Penulis ialah pemerhati kajian filsafat).
Cogito ergo sum – “Aku berpikir, maka aku ada”. Demikian statment diktum klasik dari seorang ahli filsafat yang sangat terkenal, Rene Descartes. Diktum ini lahir bukan dari angan, melainkan dari keraguan yang radikal terhadap segala hal.
Rene Descartes menilai bahwa satu-satunya hal yang tidak bisa diragukan adalah keraguan itu sendiri. Ketika kita meragukan keberadaan dunia, tubuh, bahkan Tuhan, tetap ada “aku” yang sedang meragukan. Dari titik inilah kepastian pertama ditemukan.
Bagi Descartes, akal adalah kompas utama. Ia menolak menerima kebenaran hanya karena sudah diajarkan turun-temurun. Semua harus diuji oleh akal. Karena itu “Aku berpikir” menjadi fondasi bagi lahirnya sains dan rasionalisme modern.
Sementara itu, ahli filsafat lainnya Socrates terkenal dengan diktumnya “Kenalilah dirimu sendiri “- Gnothi seauton. Kalimat ini terpahat di pintu kuil Delphi dan menjadi semangat hidup Socrates sepanjang hidupnya.
Menurut pandangan Socrates bahwa awal dari semua kebijaksanaan adalah kejujuran pada diri sendiri. Manusia paling bodoh adalah yang merasa paling tahu. Karena itu Socrates berkeliling bertanya, bukan untuk menggurui, tapi untuk menyadarkan orang dari ketidaktahuannya.
Socrates berpandangan bahwa hidup yang tidak diuji dan tidak direnungkan adalah hidup yang hampa. Mengenal diri berarti mengakui keterbatasan, mengakui ego, dan mau belajar. Hanya dengan begitu manusia bisa menjadi pribadi yang bermoral dan bijaksana.
Sedangkan ahli filsafat lainnya Heraclitus menyatakan “Tidak ada orang yang mandi di sungai yang sama 2 kali” Diktum sederhana ini menyimpan makna yang dalam tentang hakikat realitas.
Menurut Heraclitus bahwa segala sesuatu selalu berubah. Dunia ini seperti api, terus bergerak dan berproses. Tidak ada yang tetap. Karena itu manusia harus lentur dan tidak boleh melekat pada masa lalu.
Hidup adalah aliran. Menolak perubahan sama dengan melawan arus. Heraclitus mengajak kita menerima ketidakpastian sebagai hukum alam. Dari perubahan itulah lahir pertumbuhan dan keseimbangan baru.
Jean-Paul Sartre berpandangan bahwa “Manusia dikutuk untuk bebas”. Kebebasan bukan hadiah, melainkan tanggung jawab yang berat. Kita tidak bisa lari darinya.
Ia berpandangan bahwa tidak ada kodrat yang menentukan kita. Kita dilempar ke dunia tanpa manual. Karena bebas, kita sendirilah yang menciptakan makna hidup melalui pilihan dan tindakan. Setiap pilihan adalah cermin siapa diri kita.
Karena itu Sartre menyebut “neraka adalah orang lain”. Kita tersiksa oleh penilaian orang lain, padahal kitalah yang berhak menentukan nilai diri sendiri. Kebebasan menuntut keberanian untuk bertanggung jawab penuh.
Diktum Timur/Islam: “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya” Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu. Diktum ini mengandung makna bahwa perjalanan spiritual dimulai dari instropeksi diri.
Diktum Islam berpandangan bahwa diri adalah cermin. Saat kita menyadari diri kita lemah, bodoh, butuh, dan terbatas, maka kita akan sampai pada kesadaran akan Maha Kuat, Maha Tahu, dan Maha Cukupnya Allah. Mengenal nafsu, akal, dan ruh dalam diri adalah jalan menuju ma’rifatullah. Dengan begitu filsafat Barat dan Timur bertemu pada satu titik: mengenal diri adalah kunci untuk hidup yang sadar. **












