Pulanglah Kawan, Ceritamu Belum Usai

Oleh : Hairuzaman

(Penulis Buku dan Pemimpin Redaksi Kabar Expose.com)

Delapan hari. Dalam kalender kerja jurnalistik, delapan hari adalah waktu yang sangat panjang untuk sebuah penantian tanpa kabar. Namun bagi keluarga 5 jurnalis dan 3 kru kapal yang hilang di Selat Sunda, delapan hari terasa seperti keabadian yang menggantung antara harapan dan kecemasan.

Mereka berangkat bukan untuk berwisata. Mereka berangkat untuk menjalankan tugas paling mulia dalam jurnalisme: merekam sejarah. Gunung Anak Krakatau (GAK) yang terus bergejolak adalah cerita yang harus disampaikan kepada publik. Dan mereka memilih berada di garis depan untuk menceritakannya.

Hingga hari ke-8, Tim SAR Gabungan belum membuahkan hasil. Kapal-kapal telah menyisir permukaan laut, pesawat telah memantau dari udara, namun Selat Sunda masih menyimpan rapat rahasia di mana rimbanya 8 nyawa itu berada. Laut memang tidak pernah berjanji untuk ramah.

Inilah risiko yang jarang ditulis di berita utama. Kita sering melihat byline, foto, dan video yang gagah di lapangan. Kita jarang melihat risiko di baliknya: ombak tinggi, mesin kapal yang bisa mati sewaktu-waktu, dan gunung api yang bisa murka tanpa aba-aba. Liputan di GAK bukan liputan biasa.

Keputusan Gubernur Banten, Andra Soni untuk memperpanjang pencarian selama 3 hari adalah keputusan yang patut diapresiasi. Ini bukan sekadar perpanjangan waktu operasional SAR. Ini adalah pesan moral dari negara: bahwa nyawa pencari fakta itu berharga, dan negara tidak boleh cepat menyerah.

Sebagai Pemimpin Redaksi, saya paham betul dilema mengirim jurnalis ke medan berbahaya. Di satu sisi ada idealisme untuk mendapatkan gambar terbaik dan informasi paling akurat. Di sisi lain ada tanggung jawab moral untuk memastikan mereka pulang dengan selamat ke meja redaksi.

Hilangnya 5 jurnalis ini adalah pengingat keras bagi seluruh ekosistem pers di Banten dan Indonesia. Keselamatan jurnalis harus menjadi SOP yang tidak bisa ditawar. Apakah penggunaan kapal sudah sesuai standar pelayaran? Apakah ada alat komunikasi satelit? Apakah ada pelampung dan asuransi yang memadai? Pertanyaan ini harus dijawab setelah pencarian usai.

Kita juga harus jujur mengakui, kesejahteraan jurnalis sering kali berbanding terbalik dengan besarnya risiko yang mereka hadapi. Banyak jurnalis daerah berangkat dengan fasilitas minim demi sebuah berita. Peristiwa di Selat Sunda ini harus menjadi momentum untuk membenahi standar perlindungan jurnalis.

Selat Sunda hari ini menjadi saksi bisu. Di satu sisi ada kegagahan Gunung Anak Krakatau yang terus tumbuh. Di sisi lain ada 8 manusia yang rimbanya belum diketahui. Alam menunjukkan kuasanya, dan manusia menunjukkan batasnya.

Namun di tengah kebuntuan ini, kita melihat solidaritas. Tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI AL, Polairud, dan nelayan lokal bekerja tanpa lelah. Mereka adalah harapan terakhir yang terus menyalakan lampu pencarian di tengah gelapnya laut.

Untuk keluarga yang menanti, delapan hari tanpa kepastian adalah siksaan batin yang tak terukur. Tidak ada kata yang cukup untuk menghibur. Yang bisa kita lakukan adalah terus mengawal agar pencarian ini tidak dihentikan sebelum ada titik terang.

Jurnalisme pada hakikatnya adalah pekerjaan merawat ingatan kolektif bangsa. Apa yang dilakukan 5 jurnalis itu adalah bagian dari upaya merawat ingatan tentang GAK, tentang Banten, tentang Indonesia. Maka merawat mereka yang hilang adalah juga bagian dari merawat kemanusiaan kita.

Jika nanti mereka ditemukan, semoga dalam keadaan selamat. Jika takdir berkata lain, negara wajib memastikan bahwa pengabdian mereka tidak dilupakan. Nama mereka harus ditulis sebagai bagian dari sejarah pers Indonesia yang gugur dalam tugas.

Hari ini kita masih menunggu. Laut masih diam. Radio SAR masih menyala. Dan do’a dari ruang-ruang redaksi di seluruh Banten terus dipanjatkan: Pulanglah, kawan. Ceritamu belum selesai. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *