Meluruskan Keyakinan Soal Rabu Wekasan di Bulan Safar

Serang | KABAR EXPOSE.com —

Seminggu lagi umat Islam akan bertemu dengan hari Rabu terakhir di bulan Safar 1448 H. Hari tersebut dikenal dengan nama Rabu Wekasan, Rebo Wekasan, atau Rabu Pungkasan.

Di sebagian kalangan masyarakat Indonesia masih populer keyakinan bahwa Rabu terakhir bulan Safar adalah hari yang membawa kesialan. Keyakinan ini didasarkan pada keterangan sebagian ulama tasawuf yang menyebutkan turunnya ribuan bala’ atau musibah pada hari itu.

Keyakinan tersebut kemudian melahirkan sejumlah adat istiadat yang dilakukan untuk “menolak bala’”.

Pandangan Aqidah?

Dari sudut pandang aqidah, meyakini suatu hari sebagai hari sial justru bisa membuka pintu kesialan itu sendiri. Sebab Allah menyesuaikan rahmat-Nya sesuai prasangka hamba-Nya.

Allah berfirman dalam hadits qudsi:

_أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي_

Artinya : Aku sesuai persangkaan hamba-Ku tentang diri-Ku (Muttafaq ‘Alaihi).

Berdasarkan hadits tersebut, alangkah baiknya jika kita justru meyakini Rabu sebagai hari yang penuh berkah. Keyakinan ini memiliki landasan. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa hari Rabu adalah hari diciptakannya nur atau cahaya alam semesta.

_خَلَقَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ التُّرْبَةَ يَوْمَ السَّبْتِ، …، وَخَلَقَ النُّورَ يَوْمَ الْأَرْبِعَاءِ

Artinya : Allah Yang Maha Agung menciptakan tanah pada hari Sabtu… dan menciptakan cahaya pada hari Rabu… (HR Muslim).

Rasulullah SAW juga meluruskan keyakinan Arab Jahiliyah yang menganggap bulan Safar sebagai bulan sial:

_لَا عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلا هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأسَدِ

Artinya.: Tidak ada wabah yang menular dengan sendirinya, tidak ada ramalan sial, tidak ada burung pembawa sial, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit judzam sebagaimana engkau menghindar dari singa. (HR Bukhari).

*Pendapat Ulama Soal Rabu Wekasan*
KH Abdul Kholik Mustaqim, Pengasuh Pesantren Al-Wardiyah Tambakberas Jombang, menegaskan bahwa para ulama yang menolak adanya hari nahas Rebo Wekasan memiliki beberapa alasan:

1. Tidak ada nash yang kuat.

Tidak ada hadits shahih khusus tentang Rabu terakhir bulan Safar. Hadits yang ada terkait kesialan setiap akhir Rabu pada tiap bulan adalah hadits dla’if dan tidak bisa dijadikan pijakan aqidah.

2. Tidak ada anjuran ibadah khusus.

Memang ada anjuran dari sebagian ulama tasawuf, namun landasannya belum bisa dikategorikan sebagai hujjah syar’i.

3. Boleh beribadah secara umum.

Yang diperbolehkan adalah shalat hajat lidaf’il bala’ al-makhuf untuk menolak bala yang dikhawatirkan, atau shalat sunah mutlak. Hikmahnya adalah agar kita semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Daripada meyakini hari tersebut sebagai hari sial, lebih utama kita meyakininya sebagai hari untuk memperbanyak ibadah, doa, dzikir, dan syukur. Karena sejatinya, tidak ada hari yang membawa sial dalam Islam. Semua hari adalah baik selama kita mengisinya dengan ketaatan. (Hrz/Red).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *