Tim SAR Temukan Satu Korban Tewas Erupsi GAK, 7 Masih Raib

Oleh: Hairuzaman

(Penulis Buku dan Praktisi Pers)

Kabar duka kembali datang dari perairan Selat Sunda. Tim SAR Gabungan akhirnya berhasil mengidentifikasi satu korban tewas akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Korban tersebut adalah Surakman (60), Anak Buah Kapal (ABK) KM Arupadhatu 1, yang sebelumnya dilaporkan hilang bersama rekan-rekannya saat bertugas di kawasan rawan erupsi tersebut.

Penemuan jenazah Surakman menjadi titik terang sekaligus pengingat betapa ganasnya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Gunung yang lahir dari sisa letusan dahsyat Krakatau 1883 itu memang tidak pernah benar-benar tidur. Ia terus menunjukkan eksistensinya dengan erupsi-erupsi yang kerap datang tanpa aba-aba, mengancam siapa saja yang berada di radius bahayanya.

Kronologi kejadian ini bermula saat KM Arupadhatu 1 dilaporkan melakukan aktivitas di Selat Sunda bersama 2 orang temannya dan 5 orang jurnalis yang tengah melakukan reportase erupsi GAK. Misi jurnalistik untuk memberikan informasi kepada publik tentang kondisi gunung berapi aktif itu justru berujung pada musibah. Kapal yang mereka tumpangi diduga menjadi korban langsung dari dampak erupsi yang terjadi belum lama berselang.

Hingga saat ini, Tim SAR Gabungan masih terus bekerja keras menyisir perairan Selat Sunda untuk menemukan 7 korban hilang lainnya. Pencarian di laut dengan kondisi cuaca yang tidak menentu dan arus Selat Sunda yang terkenal kuat tentu bukan perkara mudah. Setiap jam pencarian adalah pertaruhan antara harapan dan keputusasaan.

Apa yang dialami Surakman dan 7 orang lainnya adalah potret nyata dari risiko profesi di lapangan. Bagi seorang pelaut, laut adalah rumah kedua. Bagi seorang jurnalis, mendekati sumber berita meski berbahaya adalah panggilan tugas. Kedua profesi ini bertemu dalam satu tragedi yang sama, di titik yang sama, karena dedikasi terhadap pekerjaan masing-masing.

Pemerintah Provinsi Banten bersama Pokdarwis dan Pokda Banten menyatakan akan terus melakukan pendampingan penuh, mulai dari proses pemulangan jenazah hingga prosesi pemakaman almarhum Surakman. Langkah ini penting sebagai bentuk kehadiran negara di tengah duka keluarga korban. Keluarga tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri dalam situasi sulit ini.

Gubernur Banten, Andra Soni, juga telah menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam. Dalam pernyataannya, ia berharap agar keluarga korban yang ditinggalkan senantiasa diberikan kekuatan, ketabahan, dan keikhlasan dalam menghadapi cobaan berat ini. Ucapan belasungkawa dari pimpinan daerah menjadi penguat moral bagi keluarga dan bagi tim yang masih bertugas di lapangan.

Tragedi ini harus menjadi evaluasi besar bagi semua pihak terkait prosedur keselamatan pelayaran dan peliputan di kawasan rawan bencana. Selat Sunda dan Gunung Anak Krakatau adalah kawasan yang statusnya selalu dipantau oleh PVMBG. Seharusnya ada batas aman yang benar-benar ditaati, dan peringatan dini yang tidak boleh diabaikan demi sebuah konten atau berita.

Kita sering kali terlena dengan keindahan visual erupsi Gunung Anak Krakatau. Foto dan videonya memang eksotis dan dramatis. Namun di balik keindahan itu, ada ancaman awan panas, lontaran material pijar, dan gelombang tinggi yang bisa terjadi kapan saja. Keindahan yang mematikan, itulah julukan yang paling tepat untuk GAK.

Peran jurnalis dalam bencana memang sangat vital. Merekalah yang menjadi mata dan telinga publik. Namun keselamatan jurnalis harus menjadi prioritas utama. Tidak ada berita yang seharga nyawa manusia. Perusahaan pers dan organisasi profesi perlu memastikan standar keselamatan (safety procedure) yang ketat sebelum mengirim jurnalisnya ke medan bencana.

Begitu pula bagi para nelayan dan ABK yang menggantungkan hidupnya di Selat Sunda. Sosialisasi jalur aman pelayaran saat GAK berstatus waspada hingga siaga harus terus digencarkan. Syahbandar dan stakeholder kelautan perlu memperketat izin berlayar dan memberikan informasi vulkanik terkini secara real time kepada para nakhoda kapal.

Saat ini, doa terbaik kita panjatkan untuk 7 korban yang masih dinyatakan hilang. Semoga Tim SAR Gabungan diberikan kemudahan dan keselamatan dalam menjalankan tugas mulianya, dan semoga keluarga yang menanti di rumah segera mendapatkan kepastian. Penantian dalam ketidakpastian adalah siksaan batin yang paling berat.

Kematian Surakman adalah duka kita bersama. Ia gugur saat bekerja, saat menjalankan tugasnya sebagai pelaut. Negara harus memastikan hak-haknya sebagai pekerja terpenuhi, dan santunan diberikan secara layak kepada keluarga yang ditinggalkan. Penghargaan atas pengabdian harus nyata, bukan hanya seremonial.

Selat Sunda kembali menelan korban. Gunung Anak Krakatau kembali mengingatkan kita bahwa kita hidup berdampingan dengan alam yang perkasa. Dari tragedi ini, mari kita belajar untuk lebih menghormati alam, lebih mengutamakan keselamatan, dan lebih menghargai setiap nyawa yang bertaruh demi tugas dan informasi untuk kita semua. Al-Fatihah untuk para korban. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *