Ketika Timnas Garuda Masih Bertengger di Posisi 116 Besar Dunia

Oleh: Hairuzaman.

(Penulis Buku dan Praktisi Pers).

Sikap Timnas Garuda akhirnya berhasil meraih juara kompetisi ASEAN Cup 2026 pasca menumbangkan Thailand pada putaran final yang digelar di Stadion Utama GBK Jakarta, menjadi catatan sejarah yang membanggakan.

Kemenangan itu disambut suka cita suporter dari Sabang sampai Merauke. Air mata, pelukan, dan nyanyian Indonesia Raya menggema di GBK, menandai berakhirnya dahaga gelar yang begitu lama.

Namun, di tengah euforia juara ASEAN, ada fakta yang menyentak kesadaran kita. Ranking FIFA Timnas Garuda masih bertengger di posisi 116 dunia.

Posisi 116 adalah angka yang jujur. Ia tidak bisa dibohongi oleh konfeti juara, tidak bisa ditutupi oleh sorak-sorai. Ia adalah cermin posisi kita yang sebenarnya dalam peta sepak bola global.

Juara ASEAN Cup memang penting, tetapi kita harus jujur bahwa ASEAN Cup bukanlah Piala Asia, apalagi Piala Dunia. Poin yang diberikan di ranking FIFA untuk kompetisi regional ini terbatas.

Thailand yang kita kalahkan di final pun bukan raksasa dunia. Mereka juga masih berkutat di peringkat 90-an. Mengalahkan mereka memberikan poin, tapi tidak mendongkrak secara signifikan.

Inilah paradoks sepak bola kita. Kita adalah raja di kampung sendiri, tetapi masih menjadi penggembira di tingkat benua. Kita merayakan kemenangan di ASEAN, sementara Jepang, Korea, dan Iran sudah memikirkan babak perempat final Piala Dunia.

Ranking 116 menunjukkan bahwa kemenangan atas Thailand tidak cukup untuk menutup luka kekalahan-kekalahan kita di Kualifikasi Piala Dunia dan Piala Asia sebelumnya. Poin minus dari kekalahan melawan tim-tim kuat Asia masih membebani.

Sepak bola modern tidak diukur dari satu turnamen. FIFA menilai konsistensi selama empat tahun. Satu bulan menjadi juara tidak bisa menghapus tiga tahun performa yang naik-turun.

Maka, pertanyaan yang lebih substansial adalah, mau dibawa kemana Timnas Garuda setelah juara ASEAN Cup 2026 ini? Apakah kita puas sampai di sini?

Ambisi untuk masuk 100 besar ranking FIFA, seperti yang kini dicanangkan, adalah ambisi yang logis. 100 besar adalah pintu masuk untuk diakui sebagai tim kelas menengah Asia, bukan lagi tim papan bawah.

Untuk masuk 100 besar, Timnas Garuda tidak boleh hanya jago kandang di GBK. Ia harus berani keluar dan mencuri poin di kandang lawan-lawan yang rankingnya di atas kita.

Kita membutuhkan lebih banyak FIFA Matchday melawan tim-tim peringkat 80-100 dunia. Bukan melawan tim-tim kecil yang hanya memberi sedikit poin, tapi juga tidak langsung melawan tim top 20 yang berpotensi membantai kita.

PSSI harus memiliki roadmap ranking yang jelas. Bukan sekadar mengatur jadwal uji coba asal ada, tetapi uji coba yang terukur secara matematis untuk menambah poin FIFA.

Posisi 116 juga menjadi refleksi atas pembinaan usia dini kita. Juara ASEAN Cup 2026 diraih sebagian besar oleh pemain senior dan naturalisasi. Regenerasi di kelompok umur U-17 dan U-20 kita masih tersendat.

Liga 1 sebagai fondasi Timnas juga harus dievaluasi. Bagaimana mungkin kita berharap Timnas masuk 100 besar, jika liga kita masih berkutat dengan masalah wasit, jadwal yang berantakan, dan kualitas lapangan yang tidak standar FIFA?

Posisi 116 seharusnya membuat kita malu, bukan sombong. Malu karena negara dengan 280 juta penduduk, dengan fanatisme sepak bola nomor satu di dunia, masih berada di bawah negara-negara kecil seperti Curacao, Guinea-Bissau, atau Guatemala.

Suporter juga harus naik kelas. Euforia juara ASEAN jangan membuat kita cepat puas dan mem-bully pemain saat kalah. Dukungan harus konsisten, baik saat di peringkat 116 maupun saat nanti, semoga, di peringkat 90.

Media massa memiliki peran untuk tidak hanya menjual sensasi juara, tetapi juga edukasi. Jelaskan kepada publik apa arti ranking 116, bagaimana sistem poin FIFA bekerja, agar publik tidak sekadar latah.

Pelatih Timnas, siapapun dia, harus diberi target yang terukur, bukan target bombastis masuk Piala Dunia tahun depan. Target realistis: tembus 100 besar dalam dua tahun, itu jauh lebih masuk akal.

Kita harus belajar dari Vietnam dan Thailand. Mereka pernah menikmati masa jaya di ASEAN, tetapi mereka tidak berhenti di situ. Mereka mengirim pemain ke J-League, K-League, dan bahkan Eropa.

Pemain kita harus didorong untuk abroad. Tidak cukup menjadi bintang di Liga 1. Asnawi, Marselino, dan Pratama Arhan telah membuka jalan. Butuh 10-15 pemain lagi yang menyusul mereka.

Di sisi lain, program naturalisasi harus selektif dan berorientasi ranking. Naturalisasi bukan untuk menambal kebutuhan juara ASEAN, tetapi untuk bersaing di level Asia.

Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga harus melihat ranking 116 ini sebagai isu nasional. Infrastruktur sepak bola bukan hanya GBK yang megah, tetapi ratusan lapangan latihan berstandar di pelosok kabupaten.

Akhirnya, posisi 116 adalah titik pijak, bukan titik akhir. Juara ASEAN Cup 2026 adalah modal psikologis yang sangat berharga untuk terbang lebih tinggi.

Tugas kita sekarang adalah menjaga agar api kemenangan di GBK itu tidak padam. Jangan biarkan trofi ASEAN Cup berdebu di lemari, sementara ranking kita melorot lagi ke 130.

Mari kita kawal Timnas Garuda dari posisi 116 ini menuju 100 besar. Perjalanannya masih panjang, butuh kerja kolektif, dan butuh kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita belum hebat.

Karena pada hakikatnya, Garuda tidak diciptakan untuk bertengger di peringkat 116. Garuda diciptakan untuk terbang tinggi di antara 100 burung terbaik di dunia. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *