Oleh: Hairuzaman
(Penulis Buku dan Praktisi Pers)
Ada sebuah ironi besar yang sedang dipertontonkan di panggung politik Indonesia hari ini. Rocky Gerung (RG), sang filsuf jalanan yang selama ini menjadikan kritik sebagai napas hidupnya, kini justru masuk ke dalam lingkaran kekuasaan itu sendiri sebagai Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Selama bertahun-tahun, Rocky Gerung membangun citra sebagai “penjaga akal sehat” dari luar sistem. Ia tidak pernah lelah menghujani pemerintah, termasuk di era Presiden Prabowo Subianto, dengan diksi-diksi pedas, logika yang menukik, dan celetukan yang ceplas-ceplos.
Kritiknya bukan kritik biasa. Ia menyerang dengan filsafat, dengan sarkasme, dengan metafora yang kadang terdengar menghina namun selalu berhasil membakar ruang publik. Dan dari situlah ia mendapatkan panggung dan pengikut.
Maka ketika kabar ia masuk Wantimpres berhembus, kekecewaan publik, terutama netizen yang selama ini menjadikannya idola oposisi, adalah sesuatu yang niscaya. Pertanyaannya sederhana: masihkah ia bisa bicara?
Wantimpres adalah lembaga yang secara konstitusional berada di dalam. Tugasnya memberi pertimbangan dan nasihat kepada Presiden. Ia bukan lembaga pengkritik dari luar, melainkan penasihat dari dalam.
Di sinilah letak persimpangan paling krusial dalam karier Rocky Gerung. Selama ini kekuatannya ada pada posisinya yang berada di luar kekuasaan. Ketika ia masuk ke dalam, ia kehilangan jarak kritis yang menjadi modal utamanya.
Dalam filsafat politik, ada adagium klasik: Anda tidak bisa menjadi pemain sekaligus wasit. Ketika RG masuk ke Wantimpres, ia secara otomatis berubah dari wasit yang meniup peluit pelanggaran, menjadi bagian dari tim yang sedang bertanding.
Publik mengenal Rocky dengan istilah “dungu” dan “ijazah palsu” dan berbagai istilah provokatif lain yang ia lontarkan untuk mengguncang kemapanan. Apakah kosakata itu masih bisa ia gunakan ketika ia kini duduk di kursi empuk Istana?
Tentu tidak. Etika birokrasi dan etika kenegaraan menuntut bahasa yang berbeda. Wantimpres berbicara dengan bahasa naskah akademik, bukan bahasa panggung demonstrasi. Di sinilah Rocky harus melakukan bunuh diri intelektual.
Apakah Rocky Gerung siap untuk itu? Ataukah ia akan menjadi Watnimpres yang tidak seperti Watimpres pada umumnya, yang tetap ceplas-ceplos dari dalam Istana?
Jika ia tetap ceplas-ceplos dari dalam, maka ia akan dianggap membocorkan dapur Istana dan merusak soliditas pemerintahan. Ia akan dianggap duri dalam daging oleh Presiden yang telah mengangkatnya.
Sebaliknya, jika ia menjadi diam, sopan, dan penuh tata krama birokrasi, maka ia akan mengkhianati dirinya sendiri. Ia akan mengkhianati jutaan pengikutnya yang selama ini mencintainya karena keberaniannya berkata tidak.
Inilah yang disebut sebagai dilema Wantimpres bagi seorang Rocky Gerung. Ia masuk ke dalam sistem yang selama ini ia kutuk sebagai sistem yang dungu.
Banyak yang menduga, masuknya Rocky ke Wantimpres adalah strategi cerdas Presiden Prabowo untuk merangkul lawan. Ini politik akomodasi klasik. Daripada dikritik terus dari luar, lebih baik dirangkul ke dalam dan dibungkam dengan jabatan.
Jika teori ini benar, maka Prabowo berhasil melakukan langkah Sun Tzu: “Keep your friends close and your enemies closer.” Rocky yang liar kini dikandangkan dalam struktur.
Namun ada tafsir kedua yang lebih positif. Bisa jadi Prabowo memang membutuhkan orang seperti Rocky di dalam. Pemerintahan yang sehat tidak hanya butuh loyalis yang mengangguk-angguk, tapi juga butuh pengganggu yang mengingatkan.
Wantimpres seharusnya memang berisi orang-orang yang berani berkata pahit kepada Presiden. Jika semua anggota Wantimpres hanya menjadi “yes man”, maka lembaga itu mati.
Jika Rocky mampu memainkan peran itu, yaitu menjadi kritikus dari dalam, maka posisinya justru menjadi sangat strategis. Ia tidak lagi berteriak di jalan, tapi berbisik langsung di telinga Presiden.
Masalahnya, publik tidak mendengar bisikan itu. Publik hanya melihat diamnya Rocky di media sosial dan di panggung-panggung diskusi. Dan diam itu akan ditafsirkan sebagai pengkhianatan.
Netizen kecewa karena mereka membutuhkan simbol perlawanan. Selama ini Rocky adalah simbol itu. Ketika simbol itu masuk Istana, maka perlawanan kehilangan wajahnya.
Quo Vadis, Rocky Gerung? Ke mana engkau akan pergi? Apakah engkau akan menjadi negarawan yang memberikan akal sehat dari dalam, atau engkau akan menjadi bagian dari kekuasaan yang selama ini engkau kritik?
Sejarah mencatat banyak intelektual yang masuk kekuasaan dan kemudian mati pemikirannya. Mereka yang dulu kritis, setelah mendapat jabatan, menjadi pembela kekuasaan yang paling garang.
Kita berharap Rocky tidak termasuk dalam barisan itu. Kita berharap ia tetap menjadi Rocky yang kita kenal, hanya saja dengan saluran yang berbeda
Tetapi harapan itu tipis. Kekuasaan memiliki logika sendiri. Ia melunakkan, ia menjinakkan, ia membuat orang merasa tidak enak untuk mengkritik teman sendiri.
Watnimpres adalah jabatan kehormatan, bukan jabatan eksekutif. Ia tidak memiliki daya paksa. Nasihatnya bisa didengar, bisa juga diabaikan. Di sinilah ujian kesabaran Rocky akan terlihat.
Mampukah seorang filsuf yang terbiasa berpikir abstrak dan radikal, bertahan dalam birokrasi yang prosedural dan penuh kompromi? Ini adalah pertanyaan psikologis, bukan hanya politis.
Pada akhirnya, yang menjadi taruhan bukan hanya kredibilitas Rocky Gerung, tetapi juga kredibilitas Istana. Jika Istana mampu menampung kritik dari orang seperti Rocky, itu menunjukkan kedewasaan demokrasi.
Namun jika masuknya Rocky hanyalah untuk membungkamnya, maka yang rusak adalah kepercayaan publik terhadap oposisi. Publik akan semakin sinis dan berpikir bahwa semua kritikus pada akhirnya bisa dibeli dengan jabatan.
Jadi Wantimpres, Quo Vadis Rocky Gerung? Jawabannya akan ditentukan bukan oleh apa yang ia katakan hari ini, tetapi oleh apa yang tidak ia katakan besok. Ketika pemerintah melakukan kesalahan, beranikah Wantimpres Rocky Gerung bersuara?
Waktu yang akan menjawab. Dan publik, seperti biasa, akan menjadi hakim yang paling kejam sekaligus paling jujur dalam menilai apakah Rocky masih penjaga akal sehat, atau sudah menjadi penjaga kekuasaan. **










