Pahlawan Pena Gemuruh Abu Vulkanik GAK

Oleh: Hairuzaman

(Penulis Buku dan Praktisi Pers)

Sejarah pers Indonesia kembali mencatat lembaran duka sekaligus kebanggaan. Dewan Pers menggelar do’a bersama untuk lima wartawan yang tewas saat melakukan reportase erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda. Momentum tersebut bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan bentuk penghormatan negara terhadap dedikasi insan pers.

Selain doa bersama, Dewan Pers juga menobatkan kelima wartawan yang gugur tersebut sebagai Pahlawan Pers. Gelar ini bukanlah gelar formal kenegaraan, namun memiliki makna moral yang sangat tinggi di dalam komunitas pers nasional. Mereka gugur bukan di medan perang, tetapi di medan tugas jurnalistik yang penuh risiko.

Peristiwa di Selat Sunda itu mengingatkan kita bahwa profesi wartawan adalah profesi yang lekat dengan bahaya. Ketika banyak orang menjauhi zona erupsi Gunung Anak Krakatau, kelima wartawan itu justru mendekat. Mereka mendekat bukan karena abai terhadap keselamatan, melainkan karena panggilan nurani untuk memastikan publik mendapatkan informasi yang akurat, cepat, dan terverifikasi.

Dalam etika jurnalistik, ada prinsip cover both sides dan terjun langsung ke lapangan. Kelima wartawan tersebut menjalankan prinsip itu secara total. Mereka memilih berada di titik nol, di mana letusan, abu vulkanik, dan gelombang tinggi menjadi ancaman nyata. Di situlah idealisme wartawan diuji.

Penobatan sebagai Pahlawan Pers oleh Dewan Pers harus dimaknai sebagai pesan kuat kepada semua pihak. Pertama, bahwa negara melalui Dewan Pers mengakui wartawan sebagai pilar keempat demokrasi yang pengabdiannya setara dengan pengabdian profesi-profesi kemanusiaan lainnya.

Kedua, penobatan ini adalah pengingat bagi perusahaan pers untuk tidak pernah abai terhadap keselamatan jurnalisnya. Idealisme tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa perlindungan. Alat pelindung diri, pelatihan mitigasi bencana, asuransi jiwa, dan manajemen risiko liputan adalah hal wajib, bukan pilihan.

Kita sering kali terlalu mudah melupakan wartawan setelah beritanya selesai dibaca. Padahal di balik satu berita erupsi yang kita lihat di layar televisi atau gawai, ada taruhan nyawa. Kelima wartawan yang gugur di Selat Sunda itu adalah representasi dari ribuan wartawan daerah yang bekerja dalam senyap dengan upah terbatas.

Gunung Anak Krakatau sendiri adalah simbol yang paradoks. Ia adalah gunung yang lahir dari tragedi besar Krakatau 1883, tumbuh, dan terus menunjukkan eksistensinya. Sama seperti pers, ia terus bertumbuh dalam dinamika zaman, kadang tenang, kadang meletus dengan informasi yang mengguncang.

Do’a bersama yang digelar Dewan Pers adalah wujud empati kolektif. Di tengah polarisasi dan seringnya pers menjadi sasaran caci-maki publik, Dewan Pers menunjukkan bahwa solidaritas internal pers masih kuat. Duka satu wartawan adalah duka seluruh wartawan Indonesia.

Gelar Pahlawan Pers juga harus menjadi bahan refleksi bagi publik. Sudahkah kita menghargai kerja jurnalistik yang benar? Di era disinformasi dan hoaks, wartawan yang bekerja sesuai Kode Etik Jurnalistik justru menjadi penjernih. Mereka yang gugur di GAK adalah penjernih itu, yang memastikan kabar erupsi bukan sekadar rumor.

Keputusan Dewan Pers ini sebagai langkah yang tepat dan perlu ditindaklanjuti. Nama kelima wartawan tersebut harus diabadikan. Jika perlu, Dewan Pers bersama pemerintah daerah mengusulkan nama mereka menjadi nama jalan, nama ruang pers, atau beasiswa jurnalistik kebencanaan.

Lebih dari itu, peristiwa ini harus mendorong lahirnya Standar Operasional Prosedur (SOP) liputan kebencanaan yang lebih ketat di seluruh dewan redaksi. Jangan ada lagi pemimpin redaksi yang memerintahkan wartawannya maju tanpa perhitungan. Keberanian harus disertai dengan keilmuan dan peralatan yang memadai.

Akhirnya, kelima wartawan itu telah menyelesaikan tugasnya dengan cara yang paling mulia. Mereka tidak pensiun, mereka tidak berhenti menulis, mereka gugur saat sedang menulis sejarah. Tinta mereka bercampur dengan abu vulkanik Anak Krakatau, menjadi prasasti abadi.

Selamat jalan, Pahlawan Pers. Doa kami menyertaimu. Karya dan pengorbananmu akan terus hidup, selama masih ada wartawan yang setia pada kebenaran dan selama masih ada publik yang membutuhkan cahaya informasi di tengah gelapnya bencana. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *