Kota Serang | KABAR EXPOSE.com —
Guru Besar UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, Prof. Dr. Hj. Iin Ratna Sumirat, SH, http://M.Hum, menegaskan bahwa pendidikan anak dimulai dari keluarga, bahkan sejak anak masih dalam kandungan selama 9 bulan.
Hal itu ditegaskannya saat menjadi narasumber sarasehan bertema “Penguatan Ketahanan Keluarga dan Institusi Pendidikan Keagamaan yang Ramah Anak” di Aula MUI Provinsi Banten, pada Rabu (16/9/2026).

Menurut Dekan Fakultas Syariah UIN SMH Banten itu, anak dibentuk melalui pendidikan informal dalam keluarga dan sangat bergantung pada ibu yang melahirkannya. Pendidikan dari ibu akan mewarnai kehidupan anak.
“Dalam kehidupan rumah tangga pasti ada konflik. Jika anak diajarkan kekerasan dalam keluarga, maka ia akan mencontoh orang tuanya. Sehingga tidak heran jika ia melakukan tindakan bullying di sekolah,” ujarnya.

Iin menambahkan, anak yang melakukan bullying secara verbal maupun non-verbal sebenarnya ingin menunjukkan jati dirinya. Karena itu, peran keluarga sangat dominan untuk memerangi perilaku tersebut dengan memberikan contoh yang baik.
Sementara itu, Sekretaris Umum MUI Banten, Dr. H. Endang Saeful Anwar, Lc, MA, mengatakan, sarasehan ini merupakan rangkaian kegiatan Pra Musda ke-VI MUI Banten. Musda sendiri digelar setiap 5 tahun sekali untuk memilih pengurus baru.

Rangkaian Pra Musda ke-VI meliputi sarasehan penguatan ketahanan keluarga dan institusi pendidikan ramah anak, sarasehan tokoh agama tentang peran ulama dalam menjaga ukhuwah umat di media digital, istighosah, dan Focus Group Discussion (FGD) Bahtsul Masail.
Endang menyebut, kasus kekerasan terhadap anak saat ini sangat mengkhawatirkan. Hampir di setiap kabupaten/kota terjadi bullying.
Padahal, dalam perspektif Al-Qur’an, umat dilarang mengolok-olok orang lain, sebagaimana firman Allah:
*QS. Al-Hujurat: 11*
_لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ_
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).”
Bullying dalam Perspektif Kesehatan
Narasumber lainnya, Sri Mulyani, A.md, Keb, SKM, MKM, meninjau ketahanan keluarga dan perilaku bullying dari perspektif kesehatan.
Menurutnya, perilaku bullying juga bisa dipicu oleh kondisi stres yang mengganggu sistem saraf dan asam lambung.
Ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan dan asupan gizi seimbang, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah. Selain itu, sekolah harus memiliki aturan tegas untuk mencegah perilaku bullying.
Ketua Panitia Sarasehan, Dr. Hj. Jahriah, M.Ag, dalam sambutannya, menuturkan, jumlah peserta sebanyak 40 orang yang terdiri dari perwakilan MUI kabupaten/kota se-Banten, Ponpes dan kalangan akademisi.
Sedangkan, kata Jahriah, kegiatan sarasehan ini merupakan program kerja dari komisi PPRK, komisi Infokom, LSBPI dan LKKM MUI Banten. (Hrz/Red).












