Iseng-Iseng Buka Box Redaksi

Belajar Analisis Kalimat

Oleh : Hairuzaman

(Penulis ialah Seorang Praktisi Pers dan Kolumnis)

Diam-diam saya memang sering iseng membuka Box Redaksi beberapa media online. Celakanya, ada pula beberapa media online yang tampak “misterius” lantaran tidak tercantum Box Redaksinya. Padahal sesuai Undang-Undang Pokok Pers Nomor 40 Tahun 1999, perusahaan media massa wajib mencamtumkan Box Redaksi.

Selain itu, pihak pengelola media online dalam Box Redaksi juga harus mencantumkan legalitas perusahaan. Termasuk pula susunan redaksi dan alamat perusahaan media online yang bersangkutan.

Sejak dulu, 35 tahun silam saat masih menjadi wartawan di sebuah surat kabar nasional di era Orde Baru, dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto, saya memang selain membaca berita, artikel dan beberapa rubrik lainnya, Box Redaksi tak pernah luput dari pengamatan. Alasannya sederhana, untuk mengetahui siapa pengelola medianya. Termasuk pula agar dapat mengetahui profesionalisme jajaran redaksinya di bidang jurnalistik.

Dengan rajin membaca Box Redaksi, pembaca pun akan tahu, mana yang salah dan mana pula penulisan kalimat yang benar dan sesuai dengan kaidah jurnalistik.

Barangkali itulah beberapa asumsi saya dengan rajin membaca Box Redaksi selama bergulat di dunia jurnalistik. Pasalnya, banyak pula penulisan kalimat yang salah. Padahal dalam dunia jurnalisme, perkara tersebut ternyata bukan hal yang sepele.

Penulisan dalam Box Redaksi memang beragam. Ada yang menulis Pimpinan Redaksi (Pimred), namun ada pula yang menulis Pemimpin Redaksi (Pemred). Dalam kamus, Pimpinan itu berkonotasi lebih dari satu orang. bisa dua atau mungkin lebih dari tiga orang. Sehingga kalimat “Pimpinan Redaksi” dinilai kurang tepat dalam kaidah jurnalistik. Karena sesungguhnya Pemimpin Redaksi itu hanya dijabat oleh satu orang saja.

Biasanya, seorang Pemimpin Redaksi itu dibantu oleh Wakil Pemimpin Redaksi atau Redaktur Pelaksana (Managing Editor). Seorang Pemimpin Redaksi juga berstatus sebagai Penanggungjawab keredaksian.

Saat membaca salah satu Box Redaksi, media online tertentu, dahi saya sempat berkerut. Sebab, ada yang menulis “Adpentorial” bukan “Advertorial” seperti yang saya baca dan temui dalam kamus. Advertorial itu berarti yang berhubungan dengan periklanan.

Kesalahan serupa juga di ikuti dengan menulis “Dipisi” bukan “Divisi” seperti yang lazimnya kita temui. Kesalahan-kesalahan tersebut seharusnya tak perlu terjadi apabila seorang Pemimpin Redaksi maupun Redakturnya memahami ilmu jurnalistik, terutama Bahasa Jurnalistik sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Ternyata, pekerjaan iseng membuka Box Redaksi media online itu banyak sekali ilmu yang kita peroleh. Selain membaca, kita pun bisa melakukan analisis tentang kalimat yang dibaca. Sehingga bisa membedakan mana yang salah dan mana pula kalimat yang benar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *