Mesin Cetak Uang OERIDAB, Simbol Sejarah Banten Akibat Blokade Ekonomi

Dikenal Mesin Cetak Surat Kabar "De Banten Bode" Tahun 1939-1942.

Pemimpin Redaksi : Hairuzaman.

KOTA SERANG | Kabarexpose.com —

Mesin cetak OERIDAB merupakan fakta sejarah lahirnya mata uang OERIDAB tempo dulu di wilayah Banten, pada masa perjuangan mempertahankan Republik Indonesia pada tahun 1947-1949. Kala itu, Indonesia menghadapi tantangan berat dalam bidang ekonomi. Situasi darurat Agresi Militer Belanda I dan II, serta blokade ekonomi oleh negara-negara sekutu, menyebabkan terputusnya jalur komunikasi antara pemerintah pusat dan daerah, termasuk pula dalam hal distribusi uang tunai.

Hal itu ditegaskan Direktur Utama Bank Banten, Muhammad Busthami, saat memberikan sambutan pada HUT ke-9 dan Peresmian GRHA Bank Banten, di Jl. Veteran No.4 Kota Serang, pada Selasa (29/7/2025). Menurut ia, untuk mengatasi kelangkaan uang di daerah, pemerintah pusat Republik Indonesia yang saat itu berpindah di Yogyakarta memberikan wewenang kepada sejumlah daerah untuk mencetak uang lokal.

Kebijakan ini melahirkan uang Republik Indonesia daerah, termasuk diantaranya OERIDAB, singkatan dari Oeang Republik Indonesia Daerah Banten. Lahirnya OERIDAB dan Mesin Percetakan di wilayah Banten diwujudkan oleh Karesidenan Banten di bawah kepemimpinan KH. Achmad Chotib selaku Residen Banten. Pada tanggal 15 Desember 1947, tercatat sebagai Uang Republik Indonesia Daerah yamg pertama di Pulau Jawa merupakan “Uang kertas Darurat untuk daerah Banten” di Kota Serang, Banten.

Muhammad Busthami mengungkapkan, mesin cetak uang yang dikenal sebagai Mesin OERIDAB pada masa itu berperan vital sebagai alat produksi uang darurat. Mesin cetak OERIDAB ini juga dikenal sebelumnya sebagai mesin cetak surat kabar “De Banten Bode”, sebuah surat kabar lokal yang aktif sejak 1930-an hingga 1942, dengan tempat percetakan milik Abdul Rojak yang dikenal dengan nama Fritz Rojak, dan difungsikan untuk mencetak numerator atau nomor seri pada uang kertas OERIDAB.

Dalam menjalankan pekerjaannya, Abdul Rojak bertindak sebagai pimpinan percetakan didampingi oleh R. Abu Bakar Winangun, M. Sastra Atmadja, dan M. Solihin. Adapun M. Ismail dipercaya sebagai pejabat penerima, penyimpan, dan pengedar uang kertas tersebut. Proses ini didukung oleh tim yang terdiri dari 12 orang, termasuk diantaranya, Muhamad Jupri, Suparman, Muhamad Tohir, Senen dan Sanah.

Dijelaskan, uang cetak OERIDAB dicetak dalam beberapa pecahan, yaitu Rp1, Rp.2, Rp.5, Rp.10, dan Rp100, masing-masing dengan desain yang berbeda. Uang itu hanya berlaku di wilayah Banten dan digunakan untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat dalam kondisi darurat, yang pada saat itu menggantikan fungsi mata uang nasional akibat blokade dan kondisi perang. Penerbitan OERIDAB tidak hanya menjadi solusi praktis atau kekurangan uang tunai, tetapi juga merupakan simbol kedaulatan ekonomi daerah dan manifestasi semangat perlawanan terhadap kolonialisme. Jejak mesin OEFIDAB saat ini selama beberapa dekade,

Mesin OERIDAB tersimpan di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama di kawasan Kasemen, Serang, sebagai saksi bisu perjuangan moneter daerah dalam masa darurat kemerdekaan. Kini, sesuai arahan Andra Soni selaku Gubernur Banten, mesin OERIDAB yang mempunyai nilai sejarah keuangan daerah Banten tersebut mulai tanggal 24 Juli 2025 resmi ditempatkan di Grha Bank Banten yang berlokasi di Jalan Veteran Nomor 4 Cipare, Kota Serang.

Muhammad Busthami menambahkan, peresmian kantor pusat, menjadi tonggak penting perjalanan sembilan tahun Bank Banten yang penuh tantangan, dengan mengusung tema Bangkit Menuju Kinerja Gemilang. Mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Banten dan DPRD Banten dalam penyertaan modal dan hibah aset, termasuk gedung kantor pusat yang baru.

Sementra itu.Gubernur Banten, Andra Soni, mengatakan, keberadaan Bank Banten merupakan wujud cita-cita besar masyarakat dan Pemerintah Provinsi Banten sejak berdiri pada tahun 2000. “Bank daerah bukan sekadar ambisi, melainkan kebutuhan strategis untuk mewujudkan kemandirian fiskal,” ucapnya.

Kami berkomitmen terus berupaya dengan inovasi dan kerja keras untuk mendorong Bank Banten sebagai motor penggerak ekonomi daerah agar pembiayaan pembangunan tidak lagi bergantung pada pihak luar,” tambah Andra Soni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *