Reportase : Ilham Nurdiansyah Putra.
Pemimpin Redaksi : Hairuzaman.
SERANG | Kabarexpose.com —
Di tengah keterbatasan akses permodalan, para pengrajin opak dan dapros di Desa Damping, Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang, masih bertahan menjaga eksistensi kuliner tradisional khas Banten.
Salah seorang pengrajin opak, Syarifudin (52), kepada wartawan, pada Selasa (22/7/2025), mengatakan, mayoritas warga di desanya saat ini menggantungkan hidup dari produksi opak dan dapros. Setiap hari mereka memulai aktivitas sejak dini hari untuk menjemur hasil produksi.
“Kalau opak pukul 04.00 WiB pagi, sudah mulai, Hal ini supaya bisa dijemur saat matahari terbit. Kalau dapros, cuaca seperti ini sebentar juga sudah kering,” tutur Udin, sapaan akrabnya.
Ia menjelaskan, bahan baku dapros terdiri dari beras cerai, aci dan bumbu khas, Sedangkan opak dibuat dari ketan, kelapa, garam dan gula.
Untuk pemasaran, Udin mengaku tidak mengalami kendala karena masing-masing pengrajin sudah memiliki pelanggan tetap. Bahkan, produk mereka telah dipasarkan hingga luar Banten. “Sudah sampai Jakarta, Bandung, bahkan ke Jawa dan Kalimantan,” ungkapnya.
Selain untuk dijual, sebagian hasil produksi juga digunakan sebagai konsumsi harian warga.
Harga dapros dan rengginang dibandrol sebesar Rp.500 per biji. Sementara opak dijual Rp.1.500 per biji.
Namun demikian, imbuhnya, keterbatasan modal masih menjadi tantangan utama, Banyak pengrajin terpaksa meminjam dana dari bank keliling (Bangke-Red). Karena terkendala syarat administrasi saat mengakses pembiayaan formal.
“Banyak yang gak punya akta nikah, Jadi susah pinjam ke bank konvensional. Harapannya sih ada bantuan dari pemerintah,” ujar Udin
Sementara itu, Ketua Hipmikindo Kecamatan Pamarayan, Ifa Suhartini, menyatakan, Desa Damping, Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang, merupakan salah satu desa binaan yang memiliki produktivitas UMKM yang cukup tinggi.
“Warga di sana bukan hanya sekadar hobi, tapi benar-benar memproduksi dan mebdistribusi hasil produksinya,” bebernya
Ifa berharap persoalan permodalan segera mendapatkan perhatian serius dari pihak terkait. “Minimal satu dulu, akses modal difasilitasi oleh perbankan atau pemerintah. Supaya usaha mereka bisa berkembang lebih baik lagi,” tandasnya.












