Oleh : Hairuzaman
(Penulis Buku dan Praktisi Pers)
Fatima Hassouna, namanya akan selalu di kenang dalam sejarah sebagai wartawan foto Palestina yang meregang nyawa akibat agresi militer zionis Israel ke jalur Gaza beberapa pekan lalu. Fatima ialah sosok wartawan foto yang loyalitas dan dedikasinya di dunia jurnalistik tak perlu diragukan lagi.
Fatima Hassouna sempat viral lantaran pernah menulis sebuah pesan yang menyentuh hati sebagai wujud dukungannya terhadap Gaza. Fatima dikabarkan tewas dalam agresi milter Israel yang begitu brutal dan tak berprikemannusiaan.
Tewasnya Fatima semakin menambah deretan panjang daftar jurnalis dunia yang meregang nyawa lantaran profesi mulianya. Berdasarkan laporan CNN, pada Minggu (20/4/2025), menyebutkan, Kementerian Kesehatan di Gaza menyatakan Fatima Hassouna telah mati syahid bersama tujuh anggota keluarga di kediamannya di kawasan Al Nafaq, Gaza City.
Sementara itu, Hamza Hassouna, saudara sepupu Fatima menyebut, serangan dahsyat dan prahara itu terjadi pada Jum’at (18/4/2025). Secara tiba-tiba dua roket jatuh di rumah Fatima. Tak ayal, rumah Fatima pun hancur berantakan dan puing-puing reruntuhan sempat menimpa seluruh anggota keluarga Fatima.
Tahun 2024, jumlah jurnalis tewas tercatat sebagai rekor tertinggi akibat kebiadaban serangan militer Israel. Berdasarkan laporan Komite Perlindungan Jurnalis (CJP) menyebut bahwa jumlah jurnalis yang tewas di seluruh dunia mencapai rekor tertinggi pada tahun 2024 sekitar 70 persen. Israel yang paling bertanggungjawab atas tewasnya para jurnalis tersebut.
Tercatat sekitar 124 jurnalis di 18 negara tewas pada tahun 2024. Tahun yang paling mematikan bagi jurnalis dan para pekerja media. Menurut CPJ, genosida Israel di jalur Gaza berakibat kematian 85 jurnalis Palestina di tangan militer Israel. Zionis Israel berupaya untuk menghambat penyelidikan atas insiden tewasnya jurnalis. Celakanya, Israel justru menyalahkan jurmalis seraya mengabaikan tugasnya guna meminta pertanggungjawaban atas insiden yang mematikan tersebut.
Serangan Israel yang begitu brutal merupakan sebuah kejahatan terhadap jurnalis dan dinilai telah melanggar hukum internasional. Tentu saja, kebiadaban Israel terhadap para jurnalis itu tak boleh dibiarkan. Karena hal ini adalah sebuah bentuk kejahatan yang tak berprikemanusiaan terhadap kalangan jurmalis dan pekerja media.
Sejauh ini militer Israel berdalih bahwa mereka menargetkan anggota Hamas dengan serangan untuk mengurangi resiko demi melindungi warga sipil. Ketika menyerang Hamas, militer Israel selalu berdalih melindungi warga sipil. Militer Israel justru menggempur warga sipil di jalur Gaza secara biadab.
Serangan Israel ke jalur Gaza sejak Oktober 2023 silam, berdampak buruk pada lebih dari 50 ribu warga Palestina tewas, ratusan ribu rumah hancur dan jutaan orang terpaksa menjadi pengungsi.
Sebagai wartawan foto, Fatima Hassouna sempat mendokumentasikan foto terkait kehidupan sehari-hari warga Gaza di Instagram dan Facebook. Bahkan, Fatima menyebut kematiannya ingin menjadi suluh perlawanan agresi militer Israel. Fatima tak ingin kematiannya hanya menjadi sebuah angka deretan panjang wartawan yang tewas akibat profesinya. Fatima berharap kematiannya didengar dunia. Berikut gambar abadi yang tak terkubur oleh ruang dan waktu.
Selain itu, Fatima Hassouna juga sebagai subjek film dokumenter baru yang berjudul “Put Your Soul On Your Hand And Walk” yang bakal tayang di Festival Film Cannes. Film ini sebagai jendela yang terbuka lebar melalui pertemuan ajaib dengan Fatima, terhadap insiden pembantaian di Palestina yang tengah berkecamuk saat ini. *”












