Editor : Hairuzaman.
Jakarta – Kabar Expose.com |
Bencana alam telah menimbulkan total kerugian USD 250 miliar atau setara Rp. 3,8 kuadriliun di seluruh dunia. Kerugian ini termasuk dari badai besar di kawasan Amerika Utara dan Eropa, serta serangkaian gempa bumi dahsyat 2023 lalu.
Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada Selasa (7/1), raksasa reasuransi asal Jerman, Munich Re mengatakan bencana alam pada tahun 2023 mengakibatkan kerugian ekonomi global yang kira-kira sama dengan tahun sebelumnya, sementara kerugian yang diasuransikan pada tahun tersebut mencapai USD 95 miliar atau Rp. 1,4 kuadriliun.
Namun, angka tersebut menandai penurunan dari USD 125 miliar atau Rp. 1,9 kuadriliun pada tahun 2022.
Dikutip dari CNBC International, Rabu (10/1/2024) Munich Re mengatakan bahwa angka-angka tersebut ditandai dengan sejumlah besar badai regional yang parah.
Munich Re mencatat, aset senilai sekitar USD 66 miliar hancur akibat badai petir di Amerika Utara tahun lalu, dan USD 50 miliar di antaranya diasuransikan.
Kemudian di Eropa, kerugian akibat badai petir mencapai USD 10 miliar, dan USD 8 miliar di antaranya diasuransikan.
Dikatakan bahwa kerugian akibat badai petir sebesar itu belum pernah terjadi sebelumnya di AS dan Eropa.
Perusahaan memperingatkan bahwa statistik kerugian akibat badai petir, yang kadang-kadang disebut sebagai risiko sekunder atau peristiwa yang lebih kecil hingga menengah, kemungkinan akan cenderung lebih tinggi di tahun-tahun mendatang.
Kerusakan Sangat Tinggi
Munich Re mengatakan meskipun kerugian ekonomi dan kerugian yang diasuransikan pada tahun 2023 mungkin tidak tampak luar biasa, hal ini menandai tahun berikutnya dengan kerusakan yang “sangat tinggi” bahkan tanpa adanya bencana besar yang terjadi di negara-negara industri.
Pada tahun 2022, misalnya, Badai Ian diketahui mengakibatkan kerugian ekonomi secara keseluruhan sebesar USD 100 miliar (Rp. 1,5 kuadriliun) dan kerugian yang diasuransikan sebesar USD 60 miliar (Rp. 933,9 triliun).












