Dari Stunting hingga Hoaks, Babinsa Jadi Ujung Tombak Deteksi Dini Masalah Warga

Serang | KABAR EXPOSE.com —

Keluhan petani, keluarga berisiko stunting, hingga isu sosial yang cepat viral sering kali pertama kali didengar Babinsa dari obrolan santai dengan warga. Informasi itu muncul di warung, kunjungan rumah, kegiatan desa, bahkan saat berpapasan di jalan.

Karena itu, tugas Bintara Pembina Desa kini tidak cukup hadir saat masalah muncul. Babinsa dituntut mampu mendengar, membaca situasi, memverifikasi informasi, dan menghubungkan warga dengan pihak terkait.

Untuk memperkuat kemampuan itu, Kodim 0602/Serang menggelar Pendayagunaan Koramil Model TA 2026 di Koramil 0602-05/Cipocok Jaya, pada Rabu (15/7/2026).

Kegiatan diikuti 45 orang terdiri atas peserta, pemateri, dan penyelenggara. Peserta berasal dari jajaran Kodim 0602/Serang serta perwakilan Kodim 0601/Pandeglang, Kodim 0603/Lebak, dan Kodim 0623/Cilegon.

Kasdim 0602/Serang Letkol Inf Eko Budi Nugroho membuka kegiatan mewakili Dandim Kolonel Arm Oke Kistiyanto. Dalam amanatnya, Dandim menegaskan kualitas personel menentukan keberhasilan pembinaan teritorial.

“Babinsa berhadapan langsung dengan masyarakat yang terus berubah. Kemampuan mereka harus terus diperbarui. Kenal batas wilayah dan tokoh masyarakat saja tidak cukup,” tegasnya.

Babinsa wajib memahami kondisi sosial, potensi pangan, kesehatan warga, hingga kerawanan yang memengaruhi ketahanan wilayah.

Melalui Koramil Model, peserta dibekali materi praktis: sikap teritorial, komunikasi efektif, ketahanan pangan, penanganan stunting, teknik instruksi, serta pengumpulan dan olah data wilayah. Peserta juga mendapat pemahaman landasan hukum pertahanan dan tugas TNI.

Serda Imron, salah satu peserta, menyebut informasi penting justru sering muncul dari cerita warga sehari-hari, bukan laporan resmi.

“Warga kadang curhat saat kami berkunjung. Tugas kami bukan langsung menyimpulkan, tapi mendengar, cek faktanya, lalu koordinasi agar ditangani pihak yang tepat,” ujarnya.

Menurut Imron, kedekatan dengan warga adalah modal. Namun harus disertai kemampuan memilah informasi agar laporan sesuai fakta lapangan.

Kemampuan verifikasi makin penting di tengah derasnya arus informasi. Satu info yang belum dicek bisa memicu salah paham dan salah keputusan.

Dalam penanganan stunting, Babinsa tidak menggantikan tenaga kesehatan. Perannya membuka komunikasi dengan keluarga dan mendukung koordinasi desa, puskesmas, serta instansi terkait.

Di bidang ketahanan pangan, kedekatan Babinsa dengan petani membantu deteksi dini kendala produksi, distribusi, atau kebutuhan yang perlu dukungan lintas sektor.

Data penduduk, fasilitas umum, potensi pangan, tokoh masyarakat, dan kerawanan wilayah bukan sekadar angka. Data itu jadi dasar menentukan langkah yang tepat bagi warga.

Dandim berharap peserta serius mengikuti kegiatan. “Jadikan materi ini bekal di wilayah, demi terwujudnya Babinsa sebagai ujung tombak TNI AD,” tegasnya.

Danramil 0602-05/Cipocok Jaya Mayor Inf Roni Kusnandar memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib, dan lancar.

Lewat Koramil Model, Kodim 0602/Serang ingin memastikan Babinsa tidak hanya dikenal dari seragamnya, tapi juga dari kemampuan mendengar, memahami masalah, dan membangun koordinasi untuk membantu masyarakat.

Sebab, memahami wilayah bukan sekadar membaca peta dan data. Memahami wilayah berarti mengenal kehidupan orang-orang di dalamnya. (Hrz/Red).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *