Reportase : Maman Suherman.
Pemimpin Redaksi : Hairuzaman.
Jakarta | KABAR EXPOSE.com —
Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Dwimulya melaksanakan kegiatan kunjungan edukatif ke Museum Wayang yang terletak di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengembangan wawasan mahasiswa di luar perkuliahan, dengan tujuan memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia, khususnya seni pewayangan, kepada mahasiswa program studi Akuntansi dan Manajemen.
Museum Wayang merupakan salah satu museum di bawah pengelolaan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Bangunan museum memiliki nilai historis yang tinggi, karena pada awalnya dibangun sebagai gereja “De Oude Hollandsche Kerk” pada tahun 1640.
Setelah mengalami kerusakan akibat gempa bumi dan melalui beberapa kali perubahan fungsi, gedung tersebut kemudian diresmikan sebagai Museum Wayang oleh Gubernur DKI Jakarta, Bapak Ali Sadikin, pada tahun 1975.
Saat ini, Museum Wayang menyimpan lebih dari 5.300 koleksi wayang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, serta beberapa koleksi dari negara lain. Koleksi tersebut mencakup wayang kulit, wayang golek, wayang krucil, wayang beber, dan jenis wayang lainnya yang mencerminkan keragaman budaya Nusantara.
Rombongan mahasiswa STIE Dwimulya tiba di Museum Wayang pada siang hari dan menerima penjelasan langsung dari pemandu museum. Dalam sesi tersebut, mahasiswa memperoleh informasi mengenai sejarah perkembangan wayang, teknik pembuatan, serta nilai filosofis yang terkandung dalam setiap tokoh pewayangan.
Salah satu bagian yang menarik perhatian mahasiswa adalah ruang imersif Museum Wayang. Di dalam ruangan tersebut, pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan wayang secara digital dengan efek suara, pencahayaan, dan proyeksi visual yang menampilkan kisah Ramayana dan Mahabharata. Pengalaman ini memberikan suasana yang lebih hidup dan membantu mahasiswa memahami bagaimana teknologi dapat digunakan untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya tradisional kepada generasi muda.
Pemandu museum juga menjelaskan bahwa pembuatan satu unit wayang kulit memerlukan ketelitian tinggi dan waktu pengerjaan yang cukup lama, mulai dari proses pengeringan kulit, pengukiran, hingga pewarnaan. Penjelasan tersebut memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai kompleksitas dan nilai seni yang terkandung dalam budaya tradisional Indonesia.
Kegiatan ini sejalan dengan komitmen STIE Dwimulya dalam menerapkan pembelajaran yang praktis dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Selain menekankan penguasaan bidang ilmu ekonomi dan manajemen, kampus juga mendorong mahasiswa untuk aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler dan pembelajaran berbasis pengalaman.
Melalui eksplorasi di Museum Wayang, termasuk pengalaman di ruang imersif, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai warisan budaya, tetapi juga memahami bagaimana inovasi teknologi dapat berperan dalam pelestarian budaya. Nilai-nilai kepemimpinan, strategi, dan etika yang tergambar dalam cerita-cerita pewayangan juga dinilai memiliki keterkaitan dengan kompetensi manajerial yang perlu dimiliki oleh lulusan STIE Dwimulya.
Kunjungan edukatif ke Museum Wayang memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari suasana perkuliahan di kelas. Mahasiswa memperoleh wawasan budaya secara langsung dan memperkaya pemahaman mengenai kearifan lokal yang dapat menjadi landasan dalam pengembangan karakter dan profesionalisme di masa mendatang.












