Selat Hormuz | KABAR EXPOSE.com —
Pemerintah Iran dilaporkan mulai menerapkan kebijakan baru dengan mewajibkan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz membayar biaya tol menggunakan aset kripto atau yuan China.
Selat Hormuz adalah jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi salah satu rute perdagangan minyak paling vital di dunia.
Langkah ini dinilai sebagai strategi Teheran untuk menghindari sanksi internasional dengan memanfaatkan sistem keuangan di luar jangkauan Amerika Serikat (AS), sebagaimana dilansir Wall Street Journal, pada Kamis (9/4/2026).
Menurut laporan perusahaan riset kripto TRM, penggunaan aset digital akan menyulitkan otoritas internasional memantau atau menghentikan arus pembayaran.
“Hal ini merepresentasikan penerapan kritis mata uang kripto untuk penghindaran sanksi di tingkat negara,” tulis TRM dalam laporannya.
TRM, yang merupakan mitra lembaga penegak hukum AS, menambahkan bahwa karakteristik transaksi kripto, cepat dan berada di luar sistem perbankan konvensional, membuat pembekuan atau pencegatan pembayaran hampir mustahil dilakukan secara real-time.
TRM menyebutkan bahwa Iran menerima pelunasan biaya tol melalui Bank of Kunlun dengan sistem transfer yang disalurkan lewat Cross-Border Interbank Payment System (CIPS).
Sistem CIPS milik China ini merupakan jalur alternatif bagi sistem pembayaran global SWIFT yang selama ini didominasi oleh pengaruh Barat.
Pada 2012, Pemerintah AS menjatuhkan sanksi kepada bank tersebut karena terbukti membantu bank-bank Iran memindahkan dana senilai jutaan dollar AS.
Pihak Bank of Kunlun sempat memberikan pembelaan pada saat itu dengan menyatakan bahwa sanksi AS telah melanggar prinsip-prinsip hubungan internasional.
Hingga berita ini diturunkan, Bank of Kunlun belum memberikan respons terkait laporan terbaru dari TRM mengenai keterlibatan mereka dalam pembayaran tol Selat Hormuz tersebut. (Hrz/Red).












