Reportase : Antoni.
Pemimpin Redaksi : Hairuzaman.
SERANG | Kabarexpose.com —
Taman Kanak-Kanak (TK) Flamboyan Desa Pasir Kembang, Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang, diduga kuat mengabaikan surat edaran Gubernur Banten No : 100.3.4/0132-dindikbud/2024, terkait larangan wisuda, pada Rabu (8/5/2025).
TK Flamboyan yang berlokasi di jalan Binong -Gabus di Desa Pasir Kembang, Kexamatwn Pamarayan, Kabupaten Serang, Banten, menjadi sorotan publik usai tetap menggelar kegiatan wisuda. Kendati Gubernur Banten, Andra sony telah mengeluarkan larangan resmi terkait kegiatan tersebut.

Celakanya, phak sekolah justru mematok biaya sebesar Rp 850 ribu per siswa untuk mengikuti kegiatan pelepasan siswa tersebut.
Biaya ini membuat sejumlah orang tua murid TK Flamboyan merasa terbebani,. Termasuk seorang wali murid berinisial NG (47), yang menyampaikan keluhannya secara terbuka.
“Kalau untuk wisuda plus foto sebesar Rp 850 ribu bagi kami itu dinilai sangat memberatkan,” ujar NG, kepada wartawan, pada Rabu (8/5/2025).
Berdasarkan informasi yang dikeluarkan pihak sekolah, TK Flamboyan bahwa kegiatan wisuda itu dijadwalkan pada 7 Mei 2025.
Sementara itu, agenda wisuda akan dilaksanakan pada 7 Mei 2025, bertempat di sekolah TK Flamboyan Kampung Binong, jalan Desa Pasir Kembang, Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang, Banten
“Biaya sebesar Rp 850 ribu itu mencakup pendaftaran munaqosah dan wisuda, sewa toga, dokumentasi serta foto kelas, konsumsi, hingga ijazaj,” ujar Krpala TK Flamboyan.
“Harapan saya, semoga membantu dibatalkan saja ini wisuda ” ucap NG
Gubernur Banten, menyatakan, larangan terhadap kegiatan wisuda yang sudah dituangkan dalam surat edaran resmi dari Dinas Pendidikan.
Gubernur Banten pun sejak awal menyoroti kegiatan semacam ini yang dinilai lebih menekankan aspek komersial ketimbang nilai pendidikan.
“Wisuda lebih kepada bisnis dibaliknya. Seharusnya pendidikan. Akan tetapi faktanya hari ini wisuda tetap berjalan dengan lancar untuk mencari keuntungan ” ujar NG kepada wartawan.
“Tidak boleh wisuda di atas rintihan orang tua murid. Saya tahu bagaimana kondisi ekonomi masyarakat Provinsi Banten. Banyak orang tua murid yang terpaksa berutang atau menjual barang demi membiayai study tour anaknya. Ini bukan hal sepele,” tegasnya.












