Banjir Petisi Genosida dan Berakhirnya Perang di Bawah Langit Gaza

Oleh : HAIRUZAMAN

(Penulis Buku dan Praktisi Pers)

Pasca menggencarkan serangan membabi-buta di jalur Gaza yang menelan banyak korban jiwa dan memporak-porandakan Palestina menghadapi Hamas, kini Israel mulai berfokus untuk menghadapi Iran. Tampaknya Israel saat ini sudah mengendurkan serangannya untuk menghadapi pasukan Hamas. Bahkan, Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, hanya menempatkan tentara cadangan yang tak terlatih di Gaza guna menghadapi pasukan Hamas. Serangan rudal Israel juga meluluh-lantakkan gedung-gedung perkantoran, pertokoan, sekolah, rumah sakit, masjid serta pemukiman penduduk.

Sebelumnya, Israel mendapatkan tekanan politik dari negara-negara terutama yang ada di Timur Tengah, termasuk pula Indonesia, pasca zionis Israel yang melancarkan serangan rudal dan bomnya ke jalur Gaza. Tak ayal, sehingga banyak korban tewas dan terluka yang menimpa warga Palestina

Sementara itu, diketahui hubungan diplomatik antara Israel dan Iran belakangan ini dikabarkan mulai terjadi ketegangan. Tak pelak, akibatnya konflik kedua negara tersebut tak bisa dihindari. Pasalnya, Iran tak mau melakukan negosiasi dengan zionis Israel. Tentu saja jika negosiasi itu dilakukan, maka akan lebih menguntungkan bagi zionis Israel dibawah kendali Perdana Menteri, Benyamin Netanyahu.

Kekinian, Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, terus mengalami tekanan politik baik dari luar maupun dalam negeri. Tercatat sebanyak 128.000 warga Israel meneken petisi dan menyatakan dukungan penghentian Genosida di Gaza. Dalam petisi itu juga menuntut pengembalian para tawanan perang Palestina. Bahkan tak hanya itu, perang yang tengah berkecamuk agar dihentikan di jalur Gaza. Jumlahnya saat ini tercatat mencapai sekitar 50 petisi yang beredar.

Diketahui, sebelumnya sebanyak 1.523 tentara korps lapis baja dan para jendral menuntut diakhirinya perang di Gaza. Selain itu, sekitar 250 mantan agen intelijen Mossad minta agar perang di jalur Gaza segera diakhiri. Mereka menuntut agar para sandera warga Palestina juga dibebaskan. Sehingga para sandera warga Palestina bisa.menghirup udara bebas

Celakanya, kendati banjir petisi dari dalam negeri Israel agar perang di Gaza dihentikan, akan tetapi Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu sama sekali tak peduli. Bahkan, Benyamin Netanyahu dengan bengisnya mengancam akan memecat tentara aktif yang menandatangani petisi tersebut.

Sejauh ini Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu tak peduli atas seruan tentara korps lapis baja, para jendral dan 250 mantan agen intelijen Mossad tersebut. Dengan gaya kepemimpinan tiraninya, Benyamin Netanyahu justru mengancam akan memecat tentara aktif yang ikut menandatangani petisi seruan agar diakhirinya perang di jalur Gaza tersebut.

Berdasarkan platform Restart Israel, yang menerbitkan petisi untuk ditandatangani warga Israel, jumlah penanda tangan pada Jum’at menembus angka 128.114. Jumlah tersebut naik jauh dari 120.000 pada Kamis (17/4/2025). Platform itu menyatakan jumlah petisi yang beredar meningkat tajam dari 43 pada Kamis menjadi 47 pada Jum’at. Petisi berasal dari berbagai sumber, termasuk personel militer cadangan dan pensiunan Israel serta kelompok sipil yang mendukung pesan militer tersebut.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menuduh para penandatangan militer melakukan pembangkangan dan mengancam mereka dengan sanksi pemecatan. Buronan penjahat perang itu menuduh kelompok tersebut didanai asing guna mendukung upaya menjatuhkan koalisinya, yang mulai menjabat pada akhir tahun 2022 silam.

Gerakan petisi tersebut menyusul gagalnya fase pertama dari kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran sandera tahanan, yang dimulai pada 19 Januari dengan mediasi Qatar dan Mesir, serta dukungan Amerika Serikat (AS). Sementara Hamas mematuhi persyaratannya, Netanyahu, di bawah tekanan dari koalisi sayap kanannya, menolak pindah ke fase kedua. ZionisĀ  Israel kembali melanjutkan operasi militer pada 18 Maret 2025.

Pada tahun kedua, genosida oleh Israel di Gaza telah menyebabkan lebih dari 51.000 warga Palestina terbunuh sejak Oktober 2023. Sebagian besar dari mereka adalah wanita dan anak-anak. Pada November, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan, Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kemanusiaan di Gaza. Israel juga menghadapi kasus genosida di Pengadilan Internasional atas tindakannya di daerah kantong tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *