Onde Mande, Ributnya…

Oleh : Hairuzaman

(Penulis Buku dan Praktisi Pers Banten)

Belum lekang dari ingatan, saat masih duduk di bangku sekolah dasar yang ada di kampung halamanku. Setiap kali memasuki kelas, guruku kerap berteriak lantang “Onde Mande” ributnya.

Ibu guru Subarni, namanya. Ia memang berasal dari Padang, Sumatera Barat. Dengan logatnya yang khas, ibu guruku selalu mengingatkan kami agar tidak ribut di kelas saat akan berlangsung proses kegiatan belajar mengajar (KBM).

Mendengar teriakan ibu guru Subarni yang lantang itu, dengan gaya dan kalimatnya yang khas “Onde Mande” spontan suasana kelas pun seketika menjadi hening. Semua siswa bergegas mengambil buku dan alat tulisnya untuk mengikuti pelajaran berhitung raraban.

Namun kini di kampung halamanku sontak ribut. Mulai adanya laut yang dipagar bambu, penggusuran tanah, sampai adanya sertifikat bodong alias illegal. Kampung halamanku yang selama ini tentram dan damai pun mulai terusik akibat oligarki yang serakah dan rakus akan harta.

Tengok pula, saat ini hasil tangkapan ikan para nelayan kian merosot. Padahal mereka harus menghidupi kebutuhan keluarganya. Justru nasib para nelayan semakin sulit. mereka harus mengeluarkan uang tambahan sekadar membeli BBM lantaran pagar laut yang angker merintangi laju perahu. Terpaksa, harus memutar laju perahunya agar sampai di tempat tujuan. Sehingga jarak tempuh yang harus dilalui semakin jauh.

Nasib serupa juga dialami oleh para petambak ikan yang ada di pesisir utara Kabupaten Tangerang Banten. Tanpa basa-basi dan harga yang layak, tiba-tiba lahan mereka diurug. Mereka pun diancam jika tak mau melepaskan lahannya.

Masih banyak ribut-ribut lainnya akibat proyek raksasa Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 milik Sugianto Kusuma alias Aguan. Seorang konglomerat 9 naga yang menjadi bianglala munculnya gaduh dan keributan.

Di setiap sudut kota di Banten, nyaris terjadi aksi unjuk rasa menolak kehadiran PIK 2 milik taipan rakus Aguan. Pemerintah pun tak tinggal diam. Semua pagar dicabut. Karena laut memang bukanlah milik Aguan. Namun, kekayaan laut itu untuk kemakmuran rakyat. Onde mande ributnya. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *