Paguyuban Kelas, Wujud Perhatian Orang Tua kepada Anak

Oleh : HAIRUZAMAN.

(Penulis Buku dan Praktisi Pers)

Peran orang tua maupun masyarakat dalam dunia pendidikan dinilai begitu krusial. Pasalnya, dengan menyerahkan anaknya ke sekolah, bukan berarti mereka tidak ikut bertanggungjawab terhadap perkembangan dan kemajuan pendidikan anak-anaknya. Tentu saja, dengan waktu yang terbatas kehadiran sosok guru tak akan mampu mengawasi anak-anak didiknya secara intensif. Sehingga orang tua harus proaktif demi kemajuan pendidikan anak-anaknya.

Sistem pendidikan formal (Formal education) antara lain meliputi, siswa, guru, kepala sekolah, komite sekolah, penjaga sekolah, alumni dan orang tua. Dalam sistem pendidikan formal, orang tua mempunyai peran yang sangat kardinal. Dengan peran aktif orang tua tersebut diharapkan tujuan dari proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) akan dapat tercapai sesuai dengan yamg diharapkan bersama.

John Locke merupakan salah seorang pakar pendidikan dengan teori yang terkenal yakni Tabula Rasa. Teori ini dikemukakan oleh John Locke, yang mendeskripsikan bahwa anak lahir ibarat sebuah ‘kertas kosong’ yang mana membutuhkan orang dewasa untuk mengisi dan mewarnainya. Sehingga dalam ilmu paedagogik, guru mempunyai peran yang begitu besar dalam mendidik para siswa di sekolah.

Tugas seorang guru di sekolah tidaklah ringan. Sebab, guru tak hanya mentransfer ilmu kepada anak-anak didiknya saja. Sehingga anak-anak didik akan mendapatkan perubahan secara kognitif. Akan tetapi, guru juga harus mampu melakukan perubahan Attitude atau sikap (Afektif) dan perubahan perilaku (Psikomotor) setelah mengikuti proses KBM di kelas.

Kehadiran orang tua siswa dalam Paguyuban Kelas merupakan salah satu upaya untuk membantu pihak sekolah guna mencapai tujuan belajar. Selain itu, melalui Paguyuban Kelas juga orang tua dapat mendorong dan sebagai manivestasi agar mengetahui perkembangan pendidikan anak-anaknya. Orang tua bisa memberikan brain storming (curah pendapat), masukan dan kontribusi pemikiran yang positif melalui Paguyuban Kelas tersebut.

Paguyuban kelas dibarapkan pula bisa melakukan monitoring dan sekaligus evaluasi terhadap faktor-faktor yang mendukung, termasuk pula yang bisa memghambat proses KBM di kelas. Paguyuban kelas dapat menginventarisir berbagai kebutuhan dalam menunjang proses KBM.

Dibandingkan dengan komite sekolah, tentu saja tugas Paguyuban Kelas lebih spesifik. Adanya Paguyuban Kelas memaksa para orang tua untuk ikut berperan aktif terhadap perkembangan dan kemajuan belajar anak-anaknya. Sehingga diharapkan para siswa dapat mengembangkan minat dan bakatnya serta dapat mengejar prestasi. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *