PB Percasi Bahas Regulasi Liga, Klub Usulkan Komposisi Pemain Lokal dan Perlindungan Kontrak

Reportase : Dade Ariyadi.

Pemimpin Redaksi : Hairuzaman

Kota Seeang | KABAR EXPOSE.com —

Salah satu usulan yang mengemuka adalah pembatasan jumlah pemain dari luar provinsi agar klub tetap memberikan ruang bagi pemain lokal untuk berkembang. Dalam forum tersebut, muncul usulan komposisi dua pemain pendatang dan empat pemain lokal, serta usulan pembatasan pemain dari luar provinsi dengan skema tiga pemain ditambah tiga pemain lainnya.

Menurut peserta yang menyampaikan usulan, pembatasan tersebut diperlukan untuk mendorong pemerataan kesempatan bermain dan meningkatkan kualitas pembinaan pemain di daerah.

Jika klub dapat merekrut seluruh pemain terbaik dari luar daerah tanpa pembatasan, pemain lokal dikhawatirkan akan kehilangan kesempatan untuk berkembang dan bersaing.

“Kalau pemain dari luar semua, otomatis pemain lokal akan kesulitan bersaing. Akibatnya, perkembangan prestasi di daerah juga akan terhambat,” demikian inti masukan yang disampaikan dalam forum, pada Sabtu (24/10/2026).

Selain pembatasan pemain, peserta juga menyoroti kemungkinan perpindahan pemain antarklub dan antarprovinsi.

Regulasi diharapkan dapat mengatur distribusi pemain secara proporsional tanpa menghambat mobilitas pemain yang ingin mengembangkan kariernya.

Pihak yang memimpin forum menyampaikan bahwa berbagai masukan tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan regulasi. Pengaturan nantinya diharapkan dapat mendukung pemerataan pemain, pengelolaan klub yang lebih baik, serta pengembangan potensi atlet di berbagai wilayah Indonesia.

Perlindungan Kontrak dan Hak Pemain
Persoalan kontrak pemain turut menjadi perhatian dalam diskusi.

Peserta mengusulkan perlunya mekanisme penyelesaian sengketa apabila terjadi perselisihan antara pemain dan klub, terutama terkait kontrak yang telah disepakati tetapi kewajiban pembayaran tidak dipenuhi.

Meskipun perjanjian kontrak dinilai sebagai dasar hubungan antara klub dan pemain, peserta mengingatkan bahwa keberadaan kontrak saja belum tentu menjamin terpenuhinya hak pemain.

Karena itu, diperlukan kejelasan mengenai bukti perjanjian, prosedur pelaporan, serta mekanisme penanganan apabila terjadi pelanggaran kontrak.

Dalam pembahasan yang sama, muncul pula usulan mengenai standar atau batasan nilai kontrak pemain, termasuk kemungkinan pengaturan khusus bagi pemain dengan status atau kategori tertentu.

Usulan tersebut disampaikan agar ketentuan kontrak dapat lebih jelas dan memberikan kepastian bagi pemain maupun klub.

Promosi dan Degradasi Masih Menjadi Bahan Pembahasan
Peserta juga meminta penjelasan lebih lanjut mengenai mekanisme promosi dan degradasi antarliga, termasuk penerapannya pada tahun 2028.

Selain itu, diperlukan kejelasan mengenai jumlah klub yang akan naik atau turun kasta serta mekanisme pelaksanaannya.

Sejumlah pertanyaan tersebut menjadi bagian dari masukan yang perlu diperjelas dalam regulasi agar setiap klub memiliki pemahaman yang sama mengenai sistem kompetisi.

Regulasi Diharapkan Mendukung Pemerataan Prestasi
Melalui forum tersebut, para peserta berharap regulasi liga tidak hanya mengatur jalannya kompetisi, tetapi juga menjadi instrumen pembinaan jangka panjang bagi pemain daerah.

Pembatasan pemain pendatang, pemerataan kesempatan bermain, kepastian kontrak, serta kejelasan sistem promosi dan degradasi diharapkan dapat menjadi bagian dari tata kelola liga yang lebih terarah.

Pimpinan forum menegaskan bahwa masukan yang disampaikan masih akan dihimpun dan dipertimbangkan dalam proses penyusunan regulasi. Dengan demikian, ketentuan final diharapkan mampu mengakomodasi kebutuhan klub, pemain, dan pembinaan prestasi di daerah secara berimbang.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *