Tampak puluhan ton sampah dibelakang pasar yang menumpuk di aliran sungai Ciujung, Desa Pamarayan, Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Seramg, pada Rabu, 21 Oktober 2026. (Foto : Istimewa).
Editor : Nono
Serang | KABAR EXPOSE.com —
Akibat tradisi bedolan di Bendungan Pamarayan, Sungai Ciujung, Desa Panyabrangan, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang, Banten, para petani ikan meradang. Pasalnya, ikan-ikan milik petani tambak mati seketika lantaran air kering kerontang. Akibatnya, petani mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.
Hal itu seperti yang dialami salah seorang warga Desa Panyabrangan, Roni Jaelani. Menurutnya, ia merugi hingga puluhan juta rupiah lantaran ikan miliknya mati karena tidak ada pasokan air.

Eceng gondok yamg biarkan tumbuh subur menutupi sungai Coujung di Desa Panyabrangan, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang, pada Rabu, 21 Oktober 2026. (Foto : Istimewa).
“Sebenarnya apa tujuan pemerintah mengadakan bedolan itu? Karena selain merugikan petani, pemerintah tidak melakukan normalisasi sungai. Akibatnya, Sungai Ciujung tercemar karena puluhan ton sampah yang dibuang secara sembarangan,” ujarnya.
Selain itu, lanjut Roni, pemerintah juga tidak peduli dengan banyaknya eceng gondok dan lumpur yang menumpuk di sepanjang aliran Sungai Ciujung tersebut.

Tradisi bedolan Pamarayan menuai protes warga sekitar, terutama para pembudi daya ikan. (Foto : Istimewa)
“Jadi, apa tujuan bedolan bendungan itu?” katanya dengan nada tanya.

Roni berharap, jika pemerintah akan melaksanakan bedolan bendungan, seharusnya terlebih dahulu melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar, terutama para petani yang menggantungkan hidup dari budi daya ikan.
“Pemerintah seharusnya memberikan perhatian dan bantuan bagi para pembudi daya ikan tersebut. Sehingga mereka bisa kembali memulai usahanya sebagai pembudi daya ikan,” bebernya.












