Panen Padi Huma Melimpah, Petani Baduy Bersyukur

Lebak | KABAR EXPOSE.com

Sejumlah petani Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, mengungkapkan rasa syukur atas panen padi huma melimpah tanpa serangan hama maupun penyakit tanaman.

“Kami bersama petani di sini cukup puas dengan hasil panen padi huma,” kata Santa (55) seorang petani Baduy saat dihubungi di Rangkasbitung, Lebak, Senin (20/4/2026).

Panen padi huma berlangsung serempak dari awal April 2026 dari tanam November 2025, karena padi huma itu menggunakan benih varietas lokal dengan masa panen enam bulan.

“Kami perkirakan panen padi huma bisa menghasilkan sekitar 350 ikat gabah (geges) dari luas tanam satu hektare kurang,” kata Santa.

Menurut Santa, hasil panen padi huma itu nantinya dibawa ke rumah di permukiman Baduy dan dimasukkan padi yang diikat itu ke rumah lumbung-lumbung pangan atau “leuit” sebagai cadangan pangan keluarga.

Saat ini, dirinya bersama puluhan petani lainnya menggarap lahan Perum Perhutani di kawasan Cicuraheum untuk ditanami padi huma, hortikultura, dan palawija.

“Kami menanam di lahan itu bisa menghasilkan pendapatan ekonomi dan ketersediaan pangan keluarga,” katanya.

Tetua adat yang juga Kepala Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten, Jaro Oom mengatakan, sumber mata pencaharian masyarakat Baduy dengan penduduk sekitar 16 ribu jiwa tersebar di 68 kampung dan di antaranya tiga kampung Baduy Dalam dari penghasilan bercocok tanam ladang.

Masyarakat Baduy juga hingga kini belum pernah kelaparan maupun kerawanan pangan, karena memiliki cadangan pangan dari hasil panen padi huma.

Bahkan, cadangan pangan itu di antaranya ada padi yang bertahan hingga 500 tahun dengan kondisi berwarna hitam.

“Kita merasa bersyukur panen padi tahun ini melimpah, sehingga stok pangan terus bertambah,” kata Jaro Oom.

Sementara Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Deni Iskandar mengatakan, panen huma masyarakat Baduy bagus, karena sistem pertanian mereka berbasis kearifan lokal. Mulai menanam padi huma tanpa bahan kimia (organik) dan hasilnya disimpan di leuit sebagai cadangan pangan.

Artinya, ujarnya, pertanian Baduy ini sangat kuat untuk ketahanan pangan keluarga dan komunitasnya, karena mandiri, berkelanjutan, dan tidak tergantung pasar, tidak bergantung pasokan dari luar.

“Ini menjadi contoh bahwa kearifan lokal juga bisa mendukung ketahanan pangan daerah,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *