Jakarta | KABAR EXPOSE.com —
Tren baju Idul Fitri atau Lebaran 2026 model gamis “rompi lepas” menjadi viral di media sosial, pada Selasa (6/1/2026).
Tren itu diperbincangkan setelah beredarnya video yang merekam aktivitas ibu-ibu sedang mencoba baju gamis panjang dengan aksen rompi yang talinya bisa dilepas.
Padahal, Lebaran 2026 masih cukup lama, yakni pertengahan Maret 2026.
Ternyata, baju gamis wanita dengan aksen rompi yang dapat dilepas tali atau kancingnya memang sedang banyak dijual.
Di Blok B Pasar Tanah Abang, para pedagang baju gamis ramai menawarkan beragam gamis “rompi lepas”.
Warnanya pun beragam. Ada warna hitam, putih, warna-warna pastel, hingga hijau dan kuning.
Selain itu, ada gamis yang dijual dengan gaya minimalis dan ada pula yang dilengkapi manik-manik.
“Mari bunda, boleh. Gamisnya, gamisnya. Model paling baru ini,” kata salah satu pedagang bernama Putri (26), pada Selasa.
Putri membenarkan bahwa baju gamis Lebaran wanita dengan potongan rompi lepas memang sedang tren.
Tren ini berbeda dengan tahun sebelumnya yang bertema warna burgundy dan dan bahan shimmer (berkilau).
“Iya memang sedang tren ini. Tren-nya memang dari pedagang. Rata-rata di toko lain juga sama modelnya. Kan produksi sendiri,” jelas Putri.
“Jadi yang seperti rompi lepas atau yang seperti ada bolero, tapi bisa dilepas,” imbuh dia.
Menurut Putri, baju gamis rompi lepas pada dasarnya merupakan satu gamis panjang biasa.
Gamis itu tidak terdiri dari rompi dan baju panjang yang terpisah.
Melainkan ada elemen tambahan berbentuk rompi panjang yang menyatu dengan gamis.
Rompi tersebut dikaitkan dengan kancing atau tali yang bisa dilepas.
“Jadi aksen saja ya. Simpel tapi cantik. Kancing atau tali bisa dilepas, atau tidak dilepas,” tutur Putri.
Ia bilang, tren baju Lebaran tahun ini memang cenderung sederhana jika dibandingkan sebelumnya.
Warna-warna yang dicari masyarakat juga lebih banyak warna biru, biru jeans, atau warna yang netral.
Di tokonya, Putri menyebut warna biru jeans sedang banyak dicari.
Harga diklaim masih terjangkau
Menurut Putri, harga satu baju gamis “rompi lepas” saat ini masih cukup terjangkau.
Bahkan menurutnya masih murah dengan kisaran harga Rp 125.000-150.000.
“Masih murah lho itu. Karena kan dijual masih jauh dari Lebaran. Rp 125.000 sudah dapat gamis panjang. Cantik, model tren baru lagi,” kata Putri.
Ada juga ada beragam pilihan bahan pada baju Lebaran tahun ini.
Namun, yang paling umum dicari masyarakat adalah bahan katun dan sifon.
Putri juga mengakui warga mulai banyak yang mencari baju Lebaran.
Rata-rata adalah ibu-ibu, tetapi ada juga bapak-bapak yang membelikan untuk anak dan istri.
Dalam satu hari, ada 8-10 potong baju gamis rompi lepas yang terjual. Baju gamis rompi lepas pun sudah ada yang dikirimkan untuk warga Aceh dan Medan.
Pedagang lain, Anisa (40), menjual gamis rompi lepas berbahan sifon.
Gamis-gamis panjang yang dijualnya mayoritas berwarna pastel, hitam dan putih.
Ada tambahan manik-manik pada gamis sehingga mempercantik bagian leher dan rompi.
Saat ditanya dari mana tren rompi lepas berasal, Anisa mengaku kurang memahami. “Saya sendiri kurang tahu. Karena dari tokonya di atas sudah begitu. Kami di sini kan menjaga toko ya,” tutur Anisa.
Ia bilang, harga baju gamis rompi lepas yang memakai manik-manik berkisar Rp 200.000 ke atas.
“Tergantung juga hiasannya ada manik-manik atau bordir. Juga tergantung banyak sedikitnya hiasan, tebal sifonnya. Kan jenisnya beda-beda,” tambah Anisa.
Ibu-ibu berburu gamis “rompi lepas”
Sementara itu, dua ibu rumah tangga, Rika (52) dan Endang (50), menceritakan pengalaman mereka berburu baju Lebaran 2026 model “rompi lepas” di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa.
Awalnya, dua warga Depok, Jawa Barat, itu berniat membeli bahan kain untuk seragam kegiatan di lingkungan tempat tinggal mereka.
Namun, saat melihat berbagai pilihan baju Lebaran yang ditawarkan para pedagang, keduanya justru tertarik untuk membeli.
“Belanjanya (baju Lebaran) tadi karena melihat yang katanya lagi viral ya, tren terbaru,” tutur Rika saat dijumpai di area Blok B Pasar Tanah Abang.
“Terus, ya sudah jadi tertarik jadi mampir dan beli. Padahal tadi maunya ke blok yang lain gitu kan, karena tadi terbawa iklan,” lanjut dia.
Rika akhirnya membeli sebuah baju gamis panjang model “rompi lepas” berwarna terakota untuk dirinya.
Ia hanya membeli satu baju karena kedua anaknya laki-laki.
Sementara itu, Endang membeli beberapa gamis dengan model serupa berwarna merah marun.
Baju-baju tersebut rencananya akan diberikan kepada ibunya serta dua anak perempuannya.
“Tadi satu set itu Rp 135 ribu. Masih terjangkau sekali kan. Modelnya juga bagus. Jadi seperti pakai bolero panjang begitu,” tutur Endang.
“Kami kaget juga kok di Blok B ternyata harganya murah. Biasanya kami beli baju Lebaran di blok lain lebih mahal lho,” lanjut dia.
Referensi dari medsos
Endang mengetahui tren baju Lebaran terbaru dari video di media sosial TikTok dan Facebook.
Ia memang gemar memantau media sosial untuk mencari referensi.
“Saya lihatin videonya. Kalau ada yang live jualan di TikTok. Ada juga di Facebook gitu kan, kadang juga Instagram,” katanya.
“Lalu saya kasih tahu teman saya ini (Rika). Kebetulan kan kami tetanggaan ya. Ayo coba beli gitu,” lanjut Endang.
Menurut Rika, memiliki referensi baju Lebaran penting agar bisa berbelanja lebih awal atau jauh sebelum Hari Raya Idul Fitri.
Dengan begitu, harga baju biasanya lebih murah dan pilihan model masih beragam.
“Kami kebetulan punya waktu untuk belanja jauh-jauh hari. Jadi bisa milih, mana yang bahannya bagus, modelnya bagus, harganya cocok. Jadi memang kalau referensi tren baju memang diperlukan,” ungkap Rika.
“Kalau belinya mepet-mepet, bisanya kan Tanah Abang sudah ramai, mau milih-milih sudah sesak kan. Terus misal ke toko juga ternyata harganya lebih mahal walaupun bahannya sama,” lanjutnya. (Hrz/Red).










