Mitos Kanjeng Ratu Kidul dan Sinuhun Paku Buwono X

Pemimpin Redaksi : Hairuzaman.

KABAR EXPOSE.com

Kanjeng Ratu Kidul kerap dianggap merupakan pelindung dan pasangan spiritual Danang Sutawijaya alias Panembahan Senapati sebagai pendiri Kerajaan Mataram Islam, maupun keturunannya, baik di Keraton Surakarta maupun Keraton Yogyakarta.

Di Keraton Surakarta, Panggung Sangga Buwana diyakini sebagai tempat pertemuan raja-raja Surakarta dengan Kanjeng Ratu Kidul. Ini ditandai dengan letak Panggung Sangga Buwana tersebut, persis segaris lurus dengan jalan keluar kota Solo yang menuju ke Wonogiri. Konon, menurut kepercayaan, hal itu memang disengaja, sebab datangnya Ratu Kidul dari arah Selatan.

Menurut kalangan Keraton Surakarta, Kanjeng Ratu Kidul menjadi istri spiritual Panembahan Senopati sampai Pakubuwono IX. Namun sejak Paku Buwono X, Ratu Kidul tidak lagi menjadi istri raja. Konon penyebabnya, suatu ketika Susuhunan Pakubuwono IX akan bertapa di panggung Sangga Buwana. Namun ternyata calon putra mahkotanya yang berumur 3 tahun ikut. Saat pertemuan raja dan Ratu Kidul, tiba-tiba putra raja hendak terjatuh. Namun sang putra mahkota bisa diselamatkan oleh Ratu Kidul.

Saat menyelamatkan itulah, Ratu Kidul memanggil anak tersebut dengan sebutan ‘anakku’. Anak tersebut lalu benar-benar dianggap sebagai anak sendiri oleh Ratu Kidul. Pangeran kecil ini bernama Gusti Raden Mas Sayidin Malikul Kusno yang kelak bergelar lengkap sebagai Sahandhap Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Ingkang Minulya saha Ingkang Wicaksana Kangjeng Susuhunan Pakubuwana Senapati ing Alaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Ingkang Jumeneng kaping Sadasa ing Nagari Surakarta Hadiningrat.

Berdasarkan pada mitos tersebut, maka di era Susuhunan Pakubuwono X bertahta Kerajaan Surakarta Hadiningrat mencapai masa kemakmuran dan kejayaannya. Pakubuwono X yang dijuluki Kaisar Jawa menjadi penguasa Jawa terkaya, disebut-sebut berkat disupport Ibu Spiritualnya.

Akan tetapi.sepeninggal beliau, kejayaan Surakarta tak sama lagi. Status daerah Istimewa Surakarta dibekukan di era Pakubuwono XII dan di era Pakubuwono XIII dan saat ini, Surakarta diwarnai konflik dualisme Raja. (Julian Dwi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *