Google search engine
HomeSudut PandangGuru di Mata Khalifah Harun Ar-Rasyid

Guru di Mata Khalifah Harun Ar-Rasyid

Penulis : M. Ishom El Saha.                              Editor : Hairuzaman.

Guru dalam sistem pemerintahan dan kenegaraan apapun selalu menempati posisi penting. Guru ibarat gunung yang menjulang sebagai penunjuk arah bagi setiap orang yang berjalan di darat dan lautan. Guru diperankan laksana mata pena untuk mengukir karier kebangsawanan dan karier pekerjaan untuk menyongsong kehidupan yang cemerlang. Oleh sebab itu, guru senantiasa diperankan dan dimuliakan.

Memuliakan guru pertanda bahwa suatu perabadan mengalami kemajuan. Contohnya di zaman kekhalifahan Islam. Harun al-Rasyid terkenal sebagai Khalifah di masa Abbasiyah, pemimpin umat Islam, yang sangat memuliakan profesi guru. Beliau pernah mengundang seorang ulama hadits ternama di masanya, Abu Muawiyah al-Dharir.

Sang ulama mengisahkan: “Aku diundang Khalifah untuk membacakan hadits Rasulullah di hadapan beliau. Setiap kali aku sebut kalimat “semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Baginda Rasulullah”, maka sang Khalifah meneteskan air mata yang jatuh ke lantai.”

Sesudah membacakan hadits, Abu Muawiyah dijamu makan bersama sang Khalifah. Setelah menyantap makanan, beliau mencuci tangan tanpa menghiraukan gelas di depannya dituangkan air minum oleh seseorang.

“Wahai Abu Muawiyah, tahukah siapa yang menuangkan air ke dalam gelasmu? Beliau adalah sang Khalifah sendiri,” demikian dikatakan Wazir pendamping Khalifah. Abu Muawiyah sejenak memandang wajah Khalifah. Harun al-Rasyid pun tersenyum dengan berkata: “Aku sangat memuliakan orang berilmu.

Riwayat lain menyebutkan, bahwa Harun al-Rasyid memiliki dua putra bernama al-Amin dan al-Makmun yang dididik oleh al-Kisai. Setiap selesai belajar, al-Amin dan al-Makmun bergegas menyiapkan sendal alas kaki gurunya.

Hingga suatu saat mereka berebut siapa yang memasangkan sendal ke kaki guru mereka. Mereka kemudian setuju berbagi posisi menyematkan kaki gurunya pada alas kaki yang telah mereka siapkan.

Kabar rebutan memasangkan sandal guru dua calon putra mahkota terdengar hingga ke telinga Khalifah. Harun al-Rasyid lalu mengundang al-Kisai untuk menghadap Khalifah.

Di depan Khalifah, al-Kisai diberi satu pertanyaan: “Siapa paling mulia di antara kita?” Sang ulama menjawab: “Tentu saja Khalifah, Amirul mukminin.”

Mendengar jawaban itu, Harun al-Rasyid berkata: “Orang yang paling mulia di antara kita adalah yang berdiri dari tempat duduknya. Lalu pada saat dia berdiri terjadilah kegaduhan karena orang-orang memperebutkan memasangkan sandal ke kakinya hingga masing-masing menerima tugas masing-masing.”

al-Kisai mengerti Khalifah murka karena calon putra mahkota berebut memasangkan sandal ke kakinya. Beliau terdiam sejenak, hingga sang Khalifah berkata kepadanya: “Kalau saja engkau melarang kedua putraku menyiapkan dan memasangkan sandalmu niscaya aku memurkaimu. Wahai orang alim, perlakuan itu layak untukmu karena kedudukan ilmumu! **

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments